Masalahnya, Keberadaan Rezim yang Pengecut dan Pengkhianat!



Pernyataan Menlu Lebanon yang berharap pada Amerika Serikat (AS) untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah mencerminkan sikap pengecut dan rendah diri. Setelah serangan bom pager dan masif entitas Yahudi yang telah membunuh lebih dari 500 orang, Menlu Abdallah Bou Habib, memohon Amerika bisa menghentikan serangan ini. 

Menurutnya, AS satu-satunya negara yang bisa menciptakan perdamaian di Timur Tengah dan berkenaan dengan Lebanon, Washington adalah sekutu lama Israel dan pemasok terbesar senjata. “AS adalah kunci keselamatan kami." 

Secara faktual, pernyataan ini penuh dengan penyesatan dan kebohongan. Sebab Amerika-lah yang menjadi sponsor utama krisis di Timur Tengah. Amerika-lah yang terus menerus menciptakan konflik berdarah dengan intervensinya di wilayah itu. 

Perang Teluk yang disusul dengan pendudukan Amerika di Irak merupakan bukti nyata. Pendudukan Amerika telah menyebabkan hancurnya Irak, lebih dari 1 juta orang menjadi korban, dan hingga kini menimbulkan instabilitas berkepanjangan di Irak. 

Politik adu domba Amerika telah menyulut perang antara kelompok di sana. Sama halnya dengan kebijakan Amerika di Suriah, yang ingin tetap mempertahankan rezim Bashar, meskipun telah melakukan pembantaian terhadap rakyatnya sendiri. Lebih dari 300 ribu orang terbunuh akibat krisis di Suriah. Belum lagi di Yaman, di perbatasan Turki, krisis di Sudan, Konflik Libya, tidak bisa dilepaskan dari kepentingan Amerika. 

Ada tiga kepentingan utama Amerika dalam menciptakan krisis ini. Pertama, memastikan dominasi dan kontrol Amerika terhadap sumberdaya alam di Timur Tengah, terutama minyak dan gas. Mencegah munculnya kekuatan politik Islam yang mengancam Amerika dan sekutu regionalnya (para penguasa Arab) dan menjaga eksistensi agresor Yahudi sebagai harga mati. Itulah yang membuat kenapa meskipun entitas Yahudi ini telah melakukan genosida dan tindakan keji, Amerika tetap mendukungnya. Siapa pun presiden atau calon presiden Amerika akan tetap mendukung entitas Yahudi ini. 

Hal ini tampak jelas dalam debat presiden baru-baru ini, mantan Presiden Donald Trump membuat pernyataan yang mengundang kontroversi baik di dalam negeri maupun internasional. Trump menyatakan, "Jika dia menjadi presiden, saya yakin 'Israel' tidak akan ada dalam waktu dua tahun dari sekarang,” mengacu pada Wakil Presiden Kamala Harris. 

Dalam tanggapannya, Harris menyoroti dukungannya yang sudah lama untuk Israel dan rakyatnya, “Sepanjang karier dan hidup saya, saya telah mendukung Israel dan rakyat Israel.” 

Lantas bagaimana mungkin Menlu Lebanon tidak mengetahui hal ini? Sebab Amerikalah yang menjadi penyebab utama krisis di Timur Tengah. Bagaimana pula dia berharap Amerika menghentikan entitas penjajah Yahudi, padahal siapa pun rezimnya, akan mempertahankan dan mendukung habis-habisan rezim ini. 

Pernyataan ini jelas menunjukkan sikap pengecut dan pengkhianatan. Hal yang sama tampak pada penguasa-penguasa negeri Islam. Iran yang sering berkoar-koar bermusuhan dengan entitas Yahudi ini, hingga saat ini belum melakukan serangan yang mematikan dan berdampak besar yang secara signifikan bisa menghentikan kekejaman Yahudi. 

Kalaupun ada serangan rudal jarak jauh, hanya sekadar menyelamatkan muka. Serangan rudal yang sudah diketahui sebelumnya, baik jarak maupun waktu tempuhnya, dengan sasaran yang tidak berdampak luas. Sementara rezim Saudi terus bungkam sambil diam-diam menjadi sponsor normalisasi dengan penjajah Yahudi. Rezim Saudi selalu mengaitkan tindakannya dengan pengakuan negara Palestina yang abal-abal, konsepsi dua negara hingga saat ini terkatung-katung. Itupun kalau terwujud akan mengokohkan keberadaan entitas Yahudi sebagai negara. 

Sementara Erdogan terus mengecam tanpa menggerakkan tentaranya dan terus berharap pada PBB untuk melakukan tindakan nyata. la mengatakan sebelum berangkat ke New York untuk berpartisipasi dalam sidang ke-79 Majelis Umum PBB bahwa ia akan membahas penghentian konflik dan pertumpahan darah di wilayah Palestina, khususnya di Gaza, dengan seluruh pemimpin yang akan ditemuinya di PBB. Sesuatu yang mustahil. Bagaikan menggantang asap! Karena apapun keputusan PBB yang tidak menguntungkan Amerika dan sekutu Israel-nya pastilah diveto. 

Pengkhianatan dan sikap pengecut penguasa negeri Islam ini telah menjadi 'iron dome' terkuat penjajah Yahudi. Diamnya mereka telah memperkokoh keberadaan entitas Yahudi ini. Siklus ini dimulai dengan pengkhianatan Abdel Nasser dan penyerahan Palestina kepada orang-orang Yahudi, pengkhianatan Assad dan penyerahan Dataran Tinggi Golan, pengkhianatan Organisasi Pembebasan Palestina yang dipimpin oleh pengkhianat terbesar Yasser Arafat dan mitranya Raja Hussein. Penguasa inilah yang berperan melikuidasi perjuangan untuk melawan agresor Yahudi. 

Jika orang-orang yang tulus dalam pasukan umat tidak segera bergerak, apa yang akan terjadi selanjutnya akan lebih mengerikan. Yaitu dominasi kaum Yahudi dan kezhaliman mereka atas umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia. Tiadakah pasukan umat dari orang-orang yang tulus yang akan membalikkan keadaan di atas kepala para penguasa Ruwaibidhah? 

Inilah kesempatan terbaik untuk para panglima perang mendapatkan tempat mulia di sisi Allah SWT. Sudah saatnya para penglima perang kaum Muslimin bergerak untuk membebaskan tanah Palestina, meninggalkan penguasa pengkhianat mereka, menyatukan umat dalam naungan Khilafah 'ala minhajinnubuwah! Allahu Akbar.[] Farid Wadjdi 

Tabloid Media Umat edisi 367, 4-17 Oktober 2024 

Comments

Popular posts from this blog

Kutipan Utuh Bab Politik (As-Siyâsah) Buku Pemikiran Politik Islam (Syaikh Abdul Qadim Zallum, Afkâr Siyâsiyy) Terjemahan

Syariah Islamiyyah - Materi Kajian Intensif

al-'Uqûbât (Sanksi Hukum) dalam Islam - Materi Kajian Intensif