Makna Hadits Munculnya Mujaddid Tiap 100 Tahun
Jika Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pendiri jamaah dakwah Hizbut Tahrir adalah mujaddid (pembaru) abad 15 H ini, lantas apakah pembaruan tersebut berhenti dengan wafatnya beliau dan masih eksisnya jamaah Hizbut Tahrir yang mengusung pemikiran beliau?
Dijawab dengan sangat baik oleh murid Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani di soal jawab beliau
***
MAKNA HADIS, MUNCULNYA MUJADDID (PEMBARU) SETIAP 100 TAHUN
Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu Ar-Rasytah ditanya tentang hadis yang menyebutkan bahwa setiap 100 tahun Allah akan mengutus seorang yang memperbarui (mujaddid) agama.
Dijawab oleh beliau sebagai berikut.
***
PERTAMA,
Dari tahun berapa dimulai seratus tahun itu?
Al-Munawi di Muqaddimah Fath al-Qadir mengatakan: “diperselisihkan tentang ra’s al-mi`ah/100 tahun, apakah dinilai dari kelahiran Nabi saw, tahun beliau diutus, hijrah, atau tahun beliau wafat…?” Yang rajih (paling kuat pendapatnya) menurut Syaikh ‘Atha Abu Ar-Rasytah bahwa penilaian tersebut adalah dari peristiwa hijrah. Hijrah itu adalah peristiwa yang dengannya Islam dan kaum Muslimin menjadi mulia dengan tegaknya daulah Islamiyah di Madinah. Karena itu, ketika Umar mengumpulkan para sahabat untuk bersepakat atas awal kalender, mereka bersandar pada hijrah.
Imam Ath-Thabari mengeluarkan di dalam Tarikh-nya, ia berkata,
“حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ، قَالَ: حَدَّثَنَا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الدَّرَاوَرْدِيُّ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ، قَالَ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ، يَقُولُ: جَمَعَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ النَّاسَ، فَسَأَلَهُمْ، فَقَالَ: من أي يوم نكتب؟ فقال علي: من يوم هاجر رسول الله صلى الله عليه وسلم، وَتَرَكَ أَرْضَ الشِّرْكِ، فَفَعَلَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.
Telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Hakam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hamad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ad-Darawardi dari Utsman bin Ubaidullah bin Abi Rafi’, ia berkata: aku mendegar Sa’id bin Al-Musayyib berkata: Umar bin Al-Khaththab mengumpulkan orang-orang dan menanyai mereka. Umar berkata: dari hari apa kita tulis?” maka Ali berkata: “dari hari Rasulullah saw hijrah dan beliau meninggalkan bumi kesyirikan”. Maka Umar ra. Melakukannya (menetapkannya).
Abu Ja’far (Ath-Thabari) berkata: mereka ---para sahabat--- menilai tahun hijriyah pertama dari Muharram tahun itu, yakni dua bulan beberapa hari sebelum Rasulullah saw datang ke Madinah karena Rasulullah saw datang di Madinah pada tanggal 12 Rabiul Awal.
Atas dasar itu, saya merajihkan untuk menghitung tahun-tahun ratusan (abad) berawal dari tahun hijrah yang dijadikan sandaran para sahabat ridhwanullah ‘alayhim. Dan bukan tahun masehi.
KEDUA,
Jika maknanya adalah setiap 100 tahun hijriyah, lantas itu di awal abad, pertengahan abad, atau akhir dari 100 tahun?
Makna ra’s al-mi`ah (setiap 100 tahun) yang rajih atau yang paling kuat pendapatnya adalah di akhir abad. Yakni bahwa mujadid itu ada pada akhir abad; yaitu seorang yang ‘alim, terkenal, bertakwa dan bersih. Dan wafatnya pada akhir abad tersebut, dan bukan pada pertengahan atau sepanjang abad tersebut. Adapun kenapa Syaikh ‘Atha Au Ar-Rasytah merajihkan hal itu, dikarenakan sebab-sebab berikut:
a. Ditetapkan dengan riwayat-riwayat shahih bahwa para ulama menilai Umar bin Abdul ‘Aziz pada pengujung 100 tahun pertama. Beliau wafat pada tahun 101 H, dan usianya 40 tahun. Para ulama menilai Imam Asy-Syafi’i mujaddid kedua karena wafat pada pengujung seratus tahun yang kedua. Beliau (Imam Asy-Syfafi’i) wafat pada tahun 204 H dan usia beliau 54 tahun.
Jika diambil penafsiran “ra’s kulli mi`ah sanah” itu selain ini, yakni ditafsirkan awal abad, maka Umar bin Abdul Aziz bukan mujadid abad pertama, sebab beliau dilahirkan tahun 61 H. Begitu pula Imam Asy-Syafi’i bukan mujadid abad kedua, sebab beliau dilahirkan tahun 150 H.
Ini makna ra’s kulli mi`ah sanah” yang dinyatakan di dalam hadits tersebut, yang berarti pada akhir abad, dan bukan di awalnya. Maka mujadid itu dilahirkan sepanjang abad itu kemudian menjadi seorang yang ‘alim terkenal dan menjadi mujadid pada akhir abad tersebut, lalu diwafatkan pada akhir abad tersebut.
b. Sedangkan dalil bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah mujadid seratus tahun pertama dan Imam Asy-Syafi’i adalah mujadid seratus tahun kedua, adalah apa yang sudah terkenal di tengah para ulama dan para imam umat ini.
Az-Zuhri, Ahmad bin Hanbal dan selain keduanya diantara para imam terdahulu dan yang belakangan, mereka telah sepakat bahwa mujadid abad pertama adalah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, dan pada akhir abad kedua adalah Imam Asy-Syafi’i rahimahullah. Umar bin Abdul Aziz diwafatkan pada tahun 101 H dan usianya 40 tahun dan masa kekhalifahan beliau adalah selama dua setengah tahun.
Sedangkan Imam Asy-Syafi’i diwafatkan pada tahun 204 H dan usia beliau 54 tahun. Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam At-Tawaliy At-Ta`sis mengatakan, Abu Bakar Al-Bazar berkata, “Aku mendengar Abdul Malik bin Abdul Humaid Al-Maymuni berkata: aku bersama Ahmad bin Hanbal lalu berlangsung mengingat Asy-Syafi’i, lalu aku lihat Ahmad mengangkatnya dan berkata: diriwayatkan dari Nabi saw beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُقَيِّضُ فِي رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ
Sesungguhnya Allah membatasi pada pengujung setiap seratus tahun orang yang mengajarkan masyarakat tentang agama mereka
Ahmad berkata, Umar bin Abdul Aziz pada pengujung abad pertama, dan saya berharap Asy-Syafi’i pada abad yang lain (kedua).”
Dan dari jalur Abu Sa’id Al-Firyabi, ia berkata: Ahmad bin Hanbal berkata,
إِنَّ اللَّهَ يُقَيِّضُ لِلنَّاسِ فِي كُلِّ رَأْسِ مِائَةٍ مَنْ يُعَلِّمُ الناس السنن وينفي عن النبي الْكَذِبَ فَنَظَرْنَا فَإِذَا فِي رَأْسِ الْمِائَةِ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَفِي رَأْسِ الْمِائَتَيْنِ الشَّافِعِيُّ
Sesungguhnya Allah membatasi untuk masyarakat pada setiap pengujung seratus tahun orang yang mengajarkan masyarakat sunan dan menafikan kedustaan dari Nabi. Dan kami melihat pada pengujung seratus tahun pertama adalah Umar bin Abdul Aziz dan pada pengujung seratus tahun kedua adalah Asy-Syafi’i.
Ibnu ‘Adi berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ali bin Al-Husain berkata: Aku mendengar ashhabuna mereka mengatakan, pada seratus tahun pertama adalah Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun kedua Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.
Al-Hakim telah mengeluarkan di dalam Mustadrak-nya dari Abu Al-Walid, ia berkata: Aku ada di majelis Abu Al-‘Abbas bin Syuraih ketika seorang syaikh (orang tua) berdiri kepadanya, memujinya, lalu aku mendengar ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ath-Thahir Al-Khaulani, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahbin, telah memberitahukan kepada kami Sa’id bin Abi Ayyub dari Syarahil bin Yazid dari Abu ‘Alqamah, dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا»
Sesungguhnya Allah mengutus pada penghujung setiap seratus tahun orang yang memperbaharui agamanya
Maka bergembiralah wahai Al-Qadhi, sesungguhnya Allah mengutus pada penghujung seratus tahun pertama Umar bin Abdul Aziz, dan Allah mengutus pada pengujung seratus tahun kedua Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.
Al-Hafizh Ibnu hajar mengatakan, ini mengindikasikan bahwa hadits itu masyhur pada masa itu.
c. Mungkin dikatakan bahwa ra’s asy-syay`i yang secara bahasa artinya awalnya. Lalu bagaimana kita merajihkan bahwa ra’s kulli mi`ah sanah adalah akhir abad dan bukan awalnya?
Jawabannya adalah bahwa ra’s asy-syay`i seperti di dalam bahasa adalah awal sesuatu itu dan demikin juga akhirnya. Ia berkata di Taj al-‘Arus: ra’s asy-syay`i adalah ujungnya dan dikatakan akhirnya. Ibnu Manzhur berkata di dalam Lisan al-‘Arab: kharaja adh-dhabb mura`isan: biawak itu keluar dari lubangnya dengan kepala lebih dahulu dan ada kalanya dengan ekornya lebih dahulu. Yakni keluar dengan awal atau akhirnya. Atas dasar itu ra’s asy-syay`i seperti yang dinyatakan di dalam bahasa, bermakna awalnya, dan bermakna ujungnya, baik awalnya atau akhirnya. Dan kita perlu qarinah (petunjuk) yang merajihkan makna yang dimaksud di dalam hadits untuk kata ra’s al-mi`ah apakah awalnya ataukah akhirnya. Dan qarinah-qarinah ini ada di dalam riwayat-riwayat terdahulu yang menilai Umar bin Abdul Aziz adalah mujadid seratus tahun pertama dan beliau diwafatkan pada tahun 101 dan penilaian bahwa Asy-Syafi’i adalah mujadid seratus tahun kedua dan beliau diwafatkan pada tahun 204. Semua itu merajihkan bahwa makna di dalam hadits tersebut adalah akhir seratus tahun, dan bukan awalnya.
Berdasarkan semua itu maka Syaikh ‘Atha Abu Ar-Rasytah merajihkan bahwa makna ra’s kulli mi`ah sanah seperti yang dinyatakan di dalam hadits tersebut adalah akhir setiap seratus tahun, dan bukan awalnya.
KETIGA,
Adapun hitungan nama-nama para mujadid pada abad-abad lalu, maka ada riwayat-riwayat dalam hal itu dan yang paling terkenal adalah syair Imam As-Suyuthi di mana ia menghitung untuk sembilan abad dan ia memohon kepada Allah agar menjadi mujadid yang kesembilan. Syaikh ‘Atha Abu Ar-Rasytah menukilkan sebagian syair tersebut:
“فَكَانَ عِنْدَ الْمِائَةِ الْأُولَى عُمَرْ خَلِيفَةُ الْعَدْلِ بِإِجْمَاعٍ وَقَرْ…
وَالشَّافِعِيُّ كَانَ عِنْدَ الثَّانِيَةِ لِمَا لَهُ مِنَ الْعُلُومِ السَّامِيَةِ…
وَالْخَامِسُ الْحَبْرُ هُوَ الْغَزَالِي وَعَدّهُ مَا فِيهِ مِنْ جِدَالِ…
وَالسَّابِعُ الرَّاقِي إلى المراقي بن دَقِيقِ الْعِيدِ بِاتِّفَاقِ…
وَهَذِهِ تَاسِعَةُ الْمِئِينَ قَدْ أَتَتْ وَلَا يُخْلَفُ مَا الْهَادِي وَعَدْ وَقَدْ رَجَوْتُ أَنَّنِي الْمُجَدِّدُ فِيهَا فَفَضْلُ اللَّهِ لَيْسَ يُجْحَدُ…
Pada abad pertama Umar bin Abdul Azis yang adil, menurut ijmak yang kokoh…
Dan Asy-Syafi’i pada abad kedua karena ia memiliki ilmu yang tinggi…
Dan kelima adalah Al-Habru, dia adalah Al-Ghazali dan penghitungan dia di dalamnya ada perdebatan…
Dan ketujuh adalah yang menanjak ke tempat tinggi Ibnu Daqiq Al-‘Aid menurut kesepakatan…
Dan abad kesembilan ini sudah datang dan tidak ditinggalkan Al-Hadi yang telah dihitung, dan aku sungguh berharap bahwa aku menjadi mujadid di dalamnya dan karunia Allah tidak bisa diperbarui…
Ada pendapat-pendapat lain yang terus berlangsung setelah itu.
KEEMPAT,
Lantas, pada masa modern ini, pada abad 14 H yang berakhir pada 30 Dzul Hijjah 1399 H, apakah mungkin kita menemukan sosok mujaddid tersebut?
Hal ini sangat menarik perhatian Syaikh ‘Atha Abu Ar-Rasytah tentang apa yang masyhur dikalangan para ulama yang kredibel bahwa pengujung tahun adalah pada akhir abad.
Umar bin Abdul Aziz dilahirkan pada tahun 61 H dan diwafatkan pengujung abad pertama pada tahun 101 H. Asy-Syafi’i dilahirkan pada tahun 150 H dan diwafatkan pada pengujung abad kedua tahun 204 H…
Artinya, masing-masing dari keduanya dilahirkan di pertengahan abad dan menjadi terkenal pada akhir abad dan diwafatkan pada akhir abad. Seperti yang dikatakan Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasytah, bahwa beliau telah merajihkan penafsiran ini dikarenakan sudah terkenal di antara para ulama yang terpercaya bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah mujadid pada pengujung abad pertama, dan Imam Asy-Syafi’i adalah mujadid pada pengujung abad kedua.
Berdasarkan hal itu maka Syaikh ‘Atha Abu Ar-Rasytah merajihkan bahwa Al-‘Allamah Asy-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah adalah mujadid pada pengujung abad ke-14 H. Beliau dilahirkan pada tahun 1332 H dan menjadi terkenal pada akhir abad ke-14 ini, khususnya ketika beliau mendirikan jamaah dakwah Hizbut Tahrir pada Jumaduts Tsaniyah tahun 1372 H, dan beliau diwafatkan pada tahun 1398 H.
Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasytah menyatakan dakwah Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani kepada kaum Muslimin untuk melanjutkan kehidupan islam dengan tegaknya daulah al-khilafah ar-rasyidah, memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan umat, kesungguhan dan keseriusan mereka, hingga al-khilafah hari ini menjadi tuntutan umum milik kaum Muslimin.
Maka semoga Allah merahmati Abu Ibrahim (Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani), dan semoga Allah SWT merahmati saudara beliau Abu Yusuf setelahnya (Syaikh Abdul Qadim Yusuf Zallum) dan menghimpunkan kedua beliau bersama para nabi, ash-shidiqun, syuhada dan orang-orang shalih dan mereka adalah sebaik-baik teman.
Ini yang dirajihkan Syaikh ‘Atha Abu Ar-Rasytah.
Wallahu a’lam bi ash-shawab wa huwa subhanahu ‘indahu husnul ma`ab.
Comments
Post a Comment