Istighna Sifat Merasa Cukup dengan Dunia Dibanding Akhirat
Istaghnâ: Sifat yang Tercela
Firman Allah Swt:
﴿وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ﴾
"Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (Istaghnâ)." (QS. Al-Lail [92] : 8)
Sifat istaghnâ (merasa dirinya telah cukup) berarti tidak tertarik dengan pahala dari Allah Swt. Menjelaskan ayat ini, Ibnu Abbas berkata, 'Bakhil terhadap hartanya dan merasa cukup sehingga merasa tidak butuh akan pertolongan Allah Swt. "
Dijelaskan Asy-Syaukani, maksud istaghnâ artinya tidak menyukai ganjaran dan pahala; atau, merasa cukup dengan kesenangan dunia daripada kenikmatan akhirat.
Az-Zamakhsyari dan Syihabuddin al-Alusi juga mengatakan bahwa maksud istaghnâ di sini adalah tidak mau dengan apa yang ada di sisi-Nya. Seolah-olah dirinya cukup dan tidak membutuhkan Allah Swt., sehingga tidak mau bertakwa kepada-Nya. Atau merasa cukup dengan kesenangan dunia, tidak dengan kenikmatan akhirat. Sebab, istaghnâ di sini merupakan kebalikan dari sifat ittaqâ (bertakwa).
Penjelasan senada jua dikemukakan oleh Abu Bakar al-Jazairi. Orang tersebut merasa cukup dengan harta, anak, dan kedudukannya, sehingga ia tidak mau mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya dan meninggalkan maksiat kepada-Nya.
"Tafsir Al-Wa’ie Juz Amma Jilid 1" (KH. Rokhmat S. Labib)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=613468287484601
Comments
Post a Comment