AGAMA, AKAL dan PERASAAN
Oleh :*Ahmad Khozinudin*
Sastrawan Politik
Kita dikarunia oleh Allah SWT akal dan
perasaan. Akal, tunduk pada logika.
Perasaan, mengikuti rasa. Keduanya, adalah
anugerah dari Allah SWT.
Sepanjang manusia hidup, maka dia akan
memiliki akal dan perasaan. Manusia, tidak
bisa hidup tanpa keduanya.
Orang yang cenderung pada akal, hidupnya
akan kering. Orang yang cenderung pada
perasaan, hidupnya akan goyah.
Namun, ada agama yang menjadi imam bagi
akal dan perasaan. Akal dan perasaan, harus
tunduk pada agama (Islam)
Misalnya, umumnya orang akan memiliki
perasan takut kehilangan nyawa. Orang akan
menjaga nyawanya, dan menghindari faktor
yang dapat mengantarkan kematian.
Tetapi ketika agama memerintahkan perang
di jalan Allah (jihad), maka perasaan harus
tunduk pada agama. Bukan lagi menghindari
perang dan takut akan kematian, bahkan
agama akan membawa perasaan orang yang
beriman berlomba untuk ikut berperang, dan
berebut menjemput kematian (syahid).
Akal akan membawa pikiran pada pilihan
yang logic secara materi. Membeli barang
5000 dijual 7000 agar mendapatkan untung.
Jika ada gaji pekerjaan 10 juta per bulan,
maka akan dipilih ketimbang gaji 5 juta per
bulan.
Tapi, agama akan membimbing akal lepas
dari logika materi, dan tunduk pada logika
agama. Ketika tahu gaji 10 juta dari riba, dari
bekerja di bank, maka dia akan segera
meninggalkan pekerjaan itu dan beralih
menjadi kuli angkut pasar meskipun gajinya
hanya 2 juta per bulan. Agama membimbing
akalnya, untuk memilih meninggalkan dosa
riba yang berujung pada neraka, dan
mengambil pahala pekerjaan halal meski
dengan gaji yang kecil, karena akan
mengantarkan ke surga.
Semestinya, perasan tunduk pada akal dan
akal tunduk pada agama. Perasaan tidak
boleh memimpin akal, apalagi memimpin
agama.
Dalam Pilpres 2024 ini pun sama. Tidak
boleh, perasaan diikuti dan memimpin akal,
mengabaikan akal apalagi agama.
Akal yang logis, meyakini bahwa capres yang
didukung dalam Pilpres 2024 akan kalah.
Akal juga memastikan, kekalahan itu bukan
karena suara, tapi karena kecurangan. Akal
juga memastikan, kecurangan ini akhirnya
akan dijadikan keputusan akhir KPU, hingga
ke MK.
Tapi perasaan masih belum bisa terima,
masak sih kalah? Masak curang terus?
Pokoknya, tidak terima, dan harus menang.
Yang curang harus dihukum, bukan dijadikan
pemimpin.
Tapi, perasaan ini tak memiliki landasan
logika. Mau bagaimana? Semua jalan sudah
dikuasai yang curang, semua upaya
ujungnya pasti dikalahkan. Pemilu 2019 telah
menjadi contoh kongkrit, bahwa akhirnya
kecurangan lah yang menjadi pemenang.
Akhirnya, perasaan yang dituruti ini akan berujung nestapa. Bergerak tanpa arah, yang
penting melampiaskan kemarahan. Walau
akhirnya, kadang hingga ada korban sia-sia
hanya karena membela Pilpres, bukan
membela agama Allah. Pilpres, yang setelah
menang pun, tetap mengabaikan hukum
Allah SWT.
Padahal, selain akal dan perasaan, masih
ada agama. Justru agama ini, yang harus
dijadikan rujukan utama.
Islam, telah menggariskan bahwa
kemenangan Islam ukurannya adalah
diterapkannya syariah Islam. Bukan
seseorang naik ke tampuk kekuasaan
Penerapan syariah Islam, hanya bisa
diwujudkan jika tegak institusi Khilafah. Dan
untuk menegakkan Khilafah, metodenya
adalah dengan dakwah, bukan dengan
Pemilu demokrasi.
Karena itu, bagi yang berakal dan memiliki
perasaan, kembalilah pada agama. Agama
yang akan membimbing akal dan perasaan,
yang akan mengantarkan pada cita-cita
kemenangan Islam, yang diterapkannya
hukum Allah SWT melalui institusi Khilafah.
Comments
Post a Comment