MATERI KEPRIBADIAN (ASY-SYAKHSHIYYAH)


KEPRIBADIAN (ASY-SYAKHSHIYYAH)

  1. Pengertian Kepribadian, Kepribadian (Asy-Syakhshiyyah), berasal dari kata Syakhshun yang berarti seseorang atau pribadi (person). Kepribadian bisa diartikan jati diri seseorang (haqiiqatusy-syakhshi). Kepribadian seseorang ditentukan oleh cara berpikirnya (aqliyyah) dan caranya bersikap (nafsiyyah) untuk memenuhi kebutuhan tersebut dalam tingkah laku/perbuatan (amal).

  1. Unsur  Pembentuk  Kepribadian, telah disebutkan di atas bahwa unsur pembentuk kepribadian adalah pola pikir (aqliyyah) dan pola sikap/ pola jiwa (nafsiyyah) untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup atau keinginan-keinginannya. Oleh karena itu, bentuk tubuh, penampilan dan kecantikan semuanya itu tidak ada hubungannya dengan pembentukan kepribadian.

a.     Aqliyyah (pola pikir) adalah cara asasi untuk memikirkan sesuatu, atau disebut juga cara manusia mengaitkan realitas dengan informasi yang disandarkan pada kaidah berpikir (qaaidah fikriyyah) tertentu. Proses berpikir ini terjadi melalui proses pengikatan atau pemaduan fakta dan informasi, atau informasi dan fakta, lewat penginderaan yang dikirimkan melalui otak. Melalui pola pikir ini akan dihasilkan suatu pemahaman (mafhum) tertentu untuk menstandarisasi perbuatannya.

    1. Nafsiyyah (pola sikap/ pola jiwa) adalah cara manusia mengaitkan dorongan-dorongan untuk pemenuhan gharizah (naluri) dan hajatul ‘udhwiyyah (kebutuhan jasmani) dengan mafahim-nya, atau disebut juga muyul yang merupakan hasil dari pengaitan mafahim dengan dorongan-dorongan.
  1. Dengan demikian, ketika seseorang menggunakan cara-cara tertentu dalam memikirkan setiap persoalan yang dihadapinya berarti dia telah memiliki aqliyyah tertentu. Begitu juga, ketika dia telah mengikatkan segala keinginannya atau kecenderungannya untuk melakukan sesuatu dengan pemahaman yang telah dimilikinya berdasarkan pandangan hidup tertentu berarti dia telah memiliki pola sikap (nafsiyyah) tertentu pula. Dengan demikian, telah terbentuk suatu kepribadian pada diri orang tersebut.

POTENSI MANUSIA (THAQATUL INSANIYYAH) (QS. Thaaha:50)

  1. At-Tafkir, Al-Idraak, Al-Fikr, Al-‘Aql (Qalbu) bermakna satu yaitu potensi yang telah diletakkan Allah kepada manusia yang merupakan hasil dari Khoosiyaru al-ribthi (kemampuan pengaitan) yang ada di dalam otak manusia atas realitas/fakta -yang diperoleh dengan proses penginderaan terhadap realitas kemudian disampaikan ke otak- beserta adanya  ma’luumat saabiqah (informasi sebelumnya) yang menafsirkan realitas itu. (QS. Al-Furqan:4)
  2. Potensi Kehidupan (Thaqatul Hayawiyyah): (1) Kebutuhan Jasmani (Hajatul ‘Udhwiyyah) dan (2) Naluri-naluri (Gharaiz)

POTENSI KEHIDUPAN (THAQATUL HAYAWIYYAH)

  1. Kebutuhan Jasmani (Hajatul ‘Udhwiyyah), potensi yang harus segera dipenuhi kebutuhannya, kalau tidak akan menimbulkan kematian dan dorongannya berasal dari dalam diri manusia (internal). Contoh : kebutuhan untuk makan, minum, bernafas, tidur, BAB, dll.
  2. Naluri-naluri (Gharaiz), potensi yang pemenuhannya tidak perlu segera, karena manusia tidak akan mati jika tidak dipenuhi namun hanya akan menimbulkan kegelisahan yang dalam taraf tertentu dapat menimbulkan goncangan jiwa dan rangsangannya berasal dari luar diri manusia (eksternal). Naluri dapat dibedakan dalam tiga kelompok besar :
    1. Naluri Beragama (Gharizatut-Tadayyun), penampakannya terlihat pada kecenderungan manusia untuk mensucikan, mengagungkan, menghormati dan mengkultuskan sesuatu, juga menyembah sesuatu.
    2. Naluri Mempertahankan Keturunan dan Kasih Sayang (Gharizatun-Nau’), penampakannya terlihat pada kecenderungan manusia yang memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis, jalinan kasih sayang antar manusia, cinta dan rasa.
    3. Naluri Mempertahankan Diri (Gharizatul Baqa’), penampakkannya terlihat pada kecenderungan manusia untuk melawan terhadap sesuatu yang akan mengambil haknya dan kecenderungan mempertahankan posisi. Seperti rasa takut, ingin dipuji, ingin berkuasa, dll.
  3. Hidup Manusia sebagian besar diperuntukkan memenuhi potensi-potensi ini dalam bentuk perbuatan karena masing-masing potensi tersebut membutuhkan pemenuhan berdasarkan adanya dorongan-dorongan. Bagaimana cara manusia memenuhi potensi-potensi ini bergantung pada standar kebenaran (Mafahim, Diin, Mabda’ (“ideologi”), way of life, aqidah, hukum, aturan, sistem) yang dia yakini, bagi manusia yang benar-benar berpikir. Sedangkan manusia yang berpikiran dangkal akan menjalani kehidupan ini dengan terdominasi fakta yang ada pada saat itu atau ditentukan oleh tren/kecenderungan kebanyakan orang atau lingkungannya, sehingga dia selalu MEMBEBEK tanpa melihat/memiliki standar  benar dan salah.
  4. Perbandingan pemenuhan kebutuhan tersebut secara Sosialis-Komunisme, Kapitalisme-Sekular dan Islam. Tentunya ISLAM yang dapat memenuhinya secara memuaskan akal, sesuai dengan fitrah dan menentramkan perasaan. Pada pribadi seseorang terdapat sekumpulan pemahaman tentang kehidupan yang diwujudkan dalam sikap dan tingkah laku. Inilah yang dinamakan KEPRIBADIAN. 
  1. Macam Kepribadian, (1). Syakhshiyyah Mutamayyizah (Kepribadian yang Khas) adalah kepribadian yang antara aqliyyah dan nafsiyyah-nya berasal dari satu sumber aqidah. (2). Syakhshiyyah Ghairu Mutamayyizah/Split Personality (Kepribadian yang Pecah/Kacau) adalah yang antara aqliyyah dan nafsiyyahnya tidak berasal dari satu sumber aqidah, tidak ada sinkronisasi, tidak saling mendukung bahkan cenderung bertolak belakang. Misalnya seorang yang mengaku beraqidah Islam tetapi mengambil hukum lain selain Islam untuk mengatur kehidupan kenegaraan, ekonomi, politik, sosial dan lain sebagainya.

KEPRIBADIAN ISLAM (SYAKHSHIYYAH ISLAMIYYAH)

  1. Kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah) terbentuk dari pola pikir Islami (aqliyyah Islamiyyah) dan pola sikap Islami (nafsiyyah Islamiyyah). Artinya, seseorang dikatakan memiliki syakhshiyyah Islamiyyah jika dalam dirinya terbentuk aqliyyah dan nafsiyyah Islamiyyah.
  2. Dikatakan memiliki aqliyyah Islamiyyah, jika ia berpikir secara Islami. Setiap informasi atau ide yang ia terima, distandarisasi dengan aqidah dan pemikiran-pemikiran Islam.
  3. Dikatakan memiliki nafsiyyah Islamiyyah jika di saat muncul kecenderungan untuk melakukan suatu perbuatan, ia pertimbangkan dengan aqidah Islam.
  4. Kuat atau lemahnya Kepribadian Islam berbeda-beda dalam setiap individu muslim. Tergantung tinggi rendahnya kualitas aqliyyah dan nafsiyyah Islamnya.

METODE MEMPERKUAT KEPRIBADIAN

  1. Kepribadian seseorang ditentukan oleh kualitas aqliyyah dan nafsiyyah.
  2. Kualitas Aqliyyah ditingkatkan dengan menambah perbendaharaan khazanah keilmuan seseorang (tsaqafah Islam), tentunya harus sejalan dengan peningkatan pemahaman dan pengamalannya.
  3. Kualitas Nafsiyyah ditingkatkan dengan melatih diri melakukan ketaatan di segala urusan, menjalankan ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah.
  4. Sebaliknya hal-hal yang dapat melemahkan syakhshiyyah Islamiyyah adalah bila ia kurang membiasakan diri untuk melaksanakan perintah Allah baik yang sunnah terlebih lagi yang wajib, juga kurang membiasakan diri untuk menjauhi larangan Allah baik yang makruh apalagi yang haram.

Seseorang tidak akan kehilangan syakhshiyyah Islamiyyah selama ia beraqidah Islam dan aqidah tersebut digunakan sebagai tolok ukur dalam aqliyyah dan nafsiyyah. Akan tetapi bisa saja ada seorang muslim namun tidak ber-Syakhshiyyah Islamiyyah, jika ia hanya menjadikan aqidahnya bersemayam di dalam hati saja, dan tidak menggunakan aqidah tersebut sebagai tolok ukur dalam Aqliyyah dan Nafsiyyah.


Potret Orang-Orang yang Ber-Syakhshiyyah Islamiyyah 


Tatkala terbentuk pada diri seorang muslim aqliyah dan nafsiyah Islam maka dia memiliki kemampuan untuk menjadi seorang prajurit sekaligus pemimpin pada waktu bersamaan. Mampu menggabungkan antara rahmah (sifat kasih sayang-pen) dengan syiddah (sifat tegas). Dia bisa hidup apa adanya atau diselimuti dengan kemewahan. Dia memahami kehidupan dengan pemahaman yang benar. Dia sanggup menguasai kehidupan dunia sesuai dengan haknya dan berupaya meraih kehidupan akhirat. Dia tidak dapat ditaklukkan oleh sifat penghamba dunia, tidak didominasi sikap fanatik buta terhadap agama dan tidak hidup menyengsarakan diri seperti yang dilakukan oleh orang-orang India. Pada saat yang sama dia menjadi pahlawan jihad sekaligus singa podium. Dia menjadi orang yang terkemuka/mulia namun bersifat rendah hati. Dia mampu memadukan antara perkara imarah (pemerintahan) dengan fiqih (hukum-hukum syara’), juga memadukan antara aspek perdagangan dengan politik. Sifatnya yang paling tinggi adalah sebagai hamba Allah, Sang Pencipta. Anda akan menemukannya sebagai orang yang khusyu’ dalam shalatnya, berpaling dari perkataan yang sia-sia, membayar zakat dan menundukkan pandangannya, menjaga amanat-amanatnya, memenuhi kesepakatannya, menunaikan janji-janjinya dan berjihad di jalan Allah. Itulah seorang muslim, dan itulah pula seorang mukmin. Dan inilah kepribadian (syakhshiyah) Islam yang dibentuk oleh Islam, dan menjadikannya manusia sebaik-baik ciptaan.

Allah telah menyebutkan ciri-ciri kepribadian tersebut di dalam al-Qur'an yang mulia pada banyak ayat. Disebutkannya sebagai sifat-sifat para sahabat Rasulullah saw., sifat-sifat orang mukmin, sifat-sifat hamba Allah (‘ibadurrahman), dan sifat-sifat mujahid. 


Referensi:

Al-Syakhshiyyah al-Islamiyyah, I/11-14, bab: الشخصية, I/15-23, bab:  الشخصية الإسلامية

File PDF: https://t.me/opinikuat/352

Comments

Popular posts from this blog

Kutipan Utuh Bab Politik (As-Siyâsah) Buku Pemikiran Politik Islam (Syaikh Abdul Qadim Zallum, Afkâr Siyâsiyy) Terjemahan

Syariah Islamiyyah - Materi Kajian Intensif

al-'Uqûbât (Sanksi Hukum) dalam Islam - Materi Kajian Intensif