Isra' Mi'raj dan pentingnya kepemimpinan Islam dunia 🌐


Isra' Mi'raj dan Pentingnya Kepemimpinan Islam Dunia 🌐

Peristiwa Isra Mi'raj adalah salah satu momen paling penting dalam sejarah Islam. Ini bukan hanya peristiwa spiritual yang penuh mukjizat, tapi juga mengandung pesan politik dan peradaban yang mendalam. Isra Mi'raj menegaskan bahwa Islam bukan sekadar agama ritual-individual, melainkan ideologi yang memimpin kehidupan manusia secara menyeluruh di bawah kepemimpinan global.

Salah satu pesan inti Isra Mi'raj adalah kewajiban shalat lima waktu, yang Allah SWT wajibkan langsung kepada Rasulullah ﷺ di Sidratul Muntaha tanpa perantara. Ini menunjukkan bahwa shalat adalah fondasi utama pembentukan manusia bertakwa yang siap memikul amanah besar kepemimpinan global.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa shalat adalah amal pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat, dan shalat juga menjadi pembeda antara iman dan kufur. Al-Quran juga menekankan fungsi sosial shalat, sehingga shalat tidak hanya membentuk kesalehan individual, tapi juga melahirkan manusia yang baik secara sosial, seperti jujur, amanah, dan adil. Sifat-sifat ini sangat diperlukan bagi kepemimpinan Islam.

Dimensi politik Isra Mi'raj terlihat jelas saat Rasulullah ﷺ memimpin shalat para nabi di Masjid al-Aqsha. Ini bukan simbol kosong, tapi isyarat ilahiyah tentang kepemimpinan Islam atas umat manusia dan risalah sebelumnya. Prof. Dr. Rawwas Qal'ah Ji mengatakan bahwa ini adalah indikasi politik kuat tentang kepemimpinan umat Islam atas dunia. Imamah Rasulullah ﷺ atas para nabi adalah isyarat kepemimpinan Islam atas agama dan bangsa setelah beliau diutus sebagai rasul terakhir. Isyarat ini kemudian terwujud saat Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah dan menegakkan Negara Islam, yang memimpin masyarakat majemuk Muslim dan non-Muslim, seperti tertuang dalam Piagam Madinah. Piagam ini mengatur hubungan sosial dan politik adil di bawah kepemimpinan Islam.

Setelah era Negara Islam di bawah Rasulullah ﷺ, kepemimpinan Islam global disebut Negara Khilafah Islam, dengan Abu Bakar ash-Shiddiq ra. sebagai khalifah pertama. Setelah Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab ra. menjadi khalifah dan membebaskan Kota al-Quds tanpa pertumpahan darah. Khalifah Umar ra. menerima kunci kota dari Patriark Nasrani dengan penuh kehormatan, menjadi teladan kepemimpinan adil dan beradab. Namun, tragedi besar terjadi saat Khilafah dihancurkan pada 1924 M, yang disebut "gempa dahsyat" menghancurkan kekuatan politik umat Islam dan membuka pintu penjajahan global.

Tanpa perlindungan Imam/Khalifah, umat Islam terpecah jadi banyak negara lemah yang mudah dikendalikan, diintervensi, dan dijajah. Ini terjadi sejak Khilafah Islam runtuh. Palestina yang dijajah Yahudi selama puluhan tahun adalah salah satu contohnya. Padahal dulu, Palestina aman dan damai di bawah Khilafah Islam.

Setelah kekosongan kepemimpinan Islam global, muncul kepemimpinan Kapitalisme global yang dipimpin Amerika Serikat (AS). Namun, kepemimpinan ini terbukti melahirkan kezaliman sistemik karena tidak dibangun di atas wahyu, melainkan asas sekularisme yang mengutamakan materi, modal, dan kekuasaan.

AS, sebagai pemimpin Kapitalisme global, bertindak sebagai "polisi dunia", tapi sebenarnya untuk menjaga kepentingan geopolitik dan korporasi raksasa, bukan menegakkan keadilan. Dukungan AS terhadap genosida di Palestina, agresi militer ke Irak dan Afganistan, serta sanksi ekonomi yang mencekik rakyat sipil, menunjukkan wajah asli Kapitalisme global: yang kuat memangsa yang lemah.

Contohnya, penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya pada Januari 2026, tidak ada negara yang berani menegur AS, termasuk negara-negara Muslim. Ini membuktikan bahwa dunia hari ini hidup di bawah teror hegemoni Kapitalisme global.

Kapitalisme global tidak hanya zalim, tapi juga gagal. Para pemikir Barat sendiri mengakui ini. Joseph E. Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi, mengatakan globalisasi kapitalistik yang dipimpin AS dan IMF memperparah kemiskinan, ketidakstabilan politik, dan ketimpangan sosial di negara berkembang. Pasar bebas tanpa kendali moral hanya menguntungkan segelintir elit global.

Thomas Piketty membuktikan bahwa kapitalisme modern memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin. Kekayaan terkonsentrasi pada oligarki, sementara mayoritas manusia tersingkir. Francis Fukuyama juga mengakui bahwa demokrasi liberal dan Kapitalisme global gagal menghadirkan keadilan dan stabilitas, malah memicu krisis kepercayaan dan populisme ekstrem.

Pengakuan ini menunjukkan Kapitalisme global gagal secara moral dan empiris.

Menurut Prof. Dr. Rawwas Qal'ah Ji, kepemimpinan Islam global memerlukan dua hal utama. Pertama, sistem Islam harus diterapkan secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan, seperti yang Allah SWT perintahkan dalam Surah al-Baqarah (2): 208, "Masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh". Kedua, perlu ada pemimpin amanah, yaitu Khalifah yang menerapkan hukum-hukum Allah SWT secara menyeluruh, bukan penguasa boneka yang tunduk pada Barat.

Isra Mi'raj juga mengandung pesan ilahiyah bagi umat Islam untuk menegakkan kepemimpinan Islam global (Khilafah). Khilafah yang menerapkan syariah Islam secara menyeluruh adalah yang mampu mewujudkan keadilan sejati dan memimpin manusia menuju kesejahteraan dan keridhaan Allah SWT.

Sebagai Muslim, kita wajib menyambut janji Allah SWT dan kabar gembira dari Rasulullah ﷺ ini dengan berjuang sungguh-sungguh dan mengerahkan segala pengorbanan, bukan dengan berpangku tangan atau malah menghalangi perjuangan.
Referensi: Buletin Kaffah Edisi 427 

Comments

Popular posts from this blog

Kutipan Utuh Bab Politik (As-Siyâsah) Buku Pemikiran Politik Islam (Syaikh Abdul Qadim Zallum, Afkâr Siyâsiyy) Terjemahan

Syariah Islamiyyah - Materi Kajian Intensif

al-'Uqûbât (Sanksi Hukum) dalam Islam - Materi Kajian Intensif