Fardhu Kifayah Mendirikan Partai Politik Berideologi Islam Kaffah
Fardhu Kifayah Mendirikan Partai Politik Berideologi Islam Kaffah
Mengoreksi penguasa yang diperintahkan Allah atas kaum Muslim, merupakan tugas individu sebagai pribadi, juga tugas kelompok dan partai, sebagai kelompok dan partai.
Sebagaimana Allah SWT telah memerintahkan berdakwah kepada Islam, melakukan amar makruf dan nahi mungkar, serta mengoreksi para penguasa, maka Allah juga memerintahkan untuk mendirikan partai politik di antara kaum Muslim. Partai politik itu berdiri sebagai sebuah kelompok dakwah yang menyeru kepada al-khair, yaitu kepada Islam, melakukan amar makruf dan nahi mungkar, serta mengoreksi penguasa. Allah SWT berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ
Hendaknya ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru pada kebajikan, menyuruh pada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. (QS. Ali Imran: 104)
Artinya, wahai kaum Muslim, hendaknya kalian membentuk sebuah jama'ah di antara kalian, yang memiliki sifat sebagai jama'ah yang melakukan dua aktivitas: aktivitas dakwah mengajak kepada Islam dan mengajak kepada kemakrufan serta mencegah dari kemunkaran.
Perintah untuk mendirikan jama'ah ini merupakan perintah yang tegas (jazm). Sebabnya, aktivitas yang dijelaskan oleh ayat di atas, agar dilaksanakan oleh jama'ah tersebut, hukumnya fardhu bagi kaum Muslim untuk melakukannya, sebagaimana yang telah dinyatakan di dalam banyak ayat dan hadis.
Karena itu, perintah yang tertuang di dalam ayat tersebut bermakna wajib, yaitu fardhu kifayah bagi seluruh kaum Muslim. Sehingga apabila tugas tersebut telah dilaksanakan oleh sebagian orang hingga tuntas, maka yang lain telah gugur kewajibannya untuk melaksanakan tugas tersebut. Perintah ini bukan merupakan fardhu 'ain (kewajiban personal), karena Allah meminta kepada kaum Muslim agar mereka mendirikan sebuah jama'ah dari kalangan mereka, yang bertugas menyeru kepada al-khair (Islam) dan melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Di dalam ayat ini, tidak ada perintah kepada seluruh kaum Muslim, agar mereka secara keseluruhan mendirikannya. Melainkan hanya perintah kepada sebagian di antara mereka agar mendirikan sebuah jama'ah dari kalangan mereka, untuk melaksanakan kewajiban. Jadi, perintah di dalam ayat ini diarahkan pada perintah untuk mendirikan jama'ah, bukan perintah untuk melakukan dua aktivitas tersebut.
Kedua aktivitas tersebut hanya merupakan penjelasan tentang aktivitas jama'ah yang harus didirikan, sehingga aktivitas tersebut hanya merupakan kriteria jama'ah yang harus didirikan.
Sebuah jama'ah, hingga menjadi sebuah jama'ah yang secara langsung mampu melaksanakan aktivitas tersebut, dalam kapasitasnya sebagai jamaah, harus memiliki syarat-syarat tertentu sehingga tetap bisa menjadi sebuah jamaah, yaitu harus melaksanakan aktivitas tersebut.
Sedangkan syarat yang menjadikan jamaah itu menjadi sebuah jamaah adalah adanya ikatan yang mengikat semua anggota-nya agar menjadi satu tubuh atau sebuah kelompok. Tanpa adanya ikatan tersebut, niscaya jamaah yang harus didirikan itu tidak akan pernah terwujud.
Sedangkan syarat lain agar jamaah tetap terjaga dalam menjalankan aktivitasnya, yaitu harus ada pemimpin yang wajib ditaati. Karena syara' telah memerintahkan setiap kelompok yang mencapai jumlah 3 orang atau lebih, agar mengangkat pemimpin bagi kelompok itu. Nabi Saw. bersabda:
لَا يَحِلُّ لِثَلَاثَةِ نَفَرٍ يَكُونُونَ بِأَرْضِ فَلَاةٍ إِلَّا أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ
Tidaklah halal bagi tiga orang yang berada di tanah lapang, selain apabila mereka dipimpin oleh salah seorang di antara mereka. (HR. Ahmad dari Abdullah bin Amru)
Dua ketentuan tersebut, yaitu adanya ikatan antara anggota jamaah dan adanya pemimpin yang wajib ditaati, menunjukkan bahwa firman Allah SWT,
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ)
Hendaknya ada di antara kalian segolongan umat.) (QS. Ali Im-ran:104);
Bermakna hendaknya di antara kalian ada jamaah yang memiliki ikatan yang bisa mengikat semua anggotanya dan memiliki pemimpin yang wajib ditaati. Inilah jamaah, kelompok, partai, organisasi, atau apapun namanya, yang bisa dianggap sebagai jama'ah yang memenuhi syarat untuk menjadikannya sebagai jamaah dan dapat mengukuhkan eksistensinya dalam beraktivitas sebagai jamaah. Jadi, jelas sekali bahwa ayat ini memerintahkan mendirikan partai, kelompok, organisasi, lembaga, atau apapun yang serupa dengan itu.
Adapun perintah untuk mendirikan jama'ah di dalam ayat ini, adalah perintah untuk mendirikan partai politik Islam ideologis. Hal ini muncul dari ayat yang menjelaskan aktivitas jamaah tersebut. Yaitu aktivitas menyeru kepada Islam serta menyeru kepada kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Aktivitas menyeru kepada kemakrufan dan mencegah kemungkaran itu berbentuk umum, sehingga mencakup aktivitas menyeru penguasa kepada kemakrufan serta mencegahnya dari kemungkaran, yaitu perintah wajibnya mengoreksi penguasa.
Sedangkan mengoreksi penguasa itu merupakan kegiatan politik, yang dilakukan oleh partai politik. Bahkan, kegiatan tersebut merupakan kegiatan partai politik yang paling penting.
Karena itu, ayat di atas menunjukkan hukum wajibnya mendirikan partai politik agar partai politik tersebut bisa menyeru kepada Islam, melakukan amar makruf dan nahi mungkar, serta mengoreksi para penguasa atas semua tindakan dan tingkah lakunya.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa partai-partai tersebut harus berbentuk partai Islam, yang berdiri di atas landasan akidah Islam dan mengadopsi hukum-hukum syara' tertentu. Tidak boleh partai tersebut berupa partai komunis, sosialis, kapitalis, nasionalis, kesukuan, atau partai yang menyerukan demokrasi, sekularisme, freemasonry; atau partai yang berdiri di atas landasan selain akidah Islam dan mengadopsi selain hukum Islam. Karena ayat di atas telah menentukan kriteria partai-partai tersebut dengan aktivitas-aktivitas yang harus diembannya.
Aktivitas-aktivitas itu adalah menyeru kepada Islam serta melakukan amar makruf dan nahi mungkar. Siapa saja yang melakukan aktivitas-aktivitas tersebut, harus mengemban Islam dan berdiri di atas landasan Islam, serta mengadopsi hukum-hukum Islam.
Sedangkan mereka yang berkelompok dengan landasan komunisme, sosialisme, kapitalisme, demokrasi, sekularisme, freemasonry, nasionalisme, sukuisme, ataupun kedaerahan, tidak mungkin berdiri di atas landasan Islam dan mengemban Islam serta mengadopsi hukum-hukum Islam. Melainkan semua itu tegak di atas landasan kekufuran dan berkelompok dengan dasar pemikiran kufur.
Karena itu, kaum Muslim haram untuk berkelompok dengan landasan komunisme, sosialisme, kapitalisme, demokrasi, sekularisme, freemasonry, nasionalisme, sukuisme, atau landasan-landasan lain selain landasan Islam.
Partai politik tersebut harus 'terbuka/terang-terangan', bukan partai 'bawah tanah, karena aktivitas partai tersebut menyeru kepada al-khair (Islam), melakukan amar makruf dan nahi mungkar, serta mengoreksi penguasa. Sedangkan aktivitas untuk meraih kekuasaan melalui tangan umat itu merupakan aktivitas yang terbuka dan terang-terangan, bukan sembunyi-sembunyi dan dirahasiakan, sehingga betul-betul bisa meraih tujuan yang diharapkan.
Aktivitas-aktivitas partai tersebut wajib tidak bersifat fisik, karena aktivitasnya adalah dengan lisan. Yaitu aktivitas menyeru kepada Islam dengan lisan, serta melakukan amar makruf dan nahi mungkar dengan lisan pula. Karena itu, sarana-sarana yang digunakan wajib bersifat damai, tanpa menggunakan senjata dan kekerasan dalam menjalankan aktivitasnya. Mengangkat senjata untuk menentang penguasa syar'i yang sah menurut syariah itu tidak diperbolehkan, karena banyak hadis yang mencegah tindakan tersebut.
Melakukan amar makruf dan nahi mungkar serta mengoreksi penguasa sangat mungkin dilakukan tanpa mengangkat senjata. Karena itu wajib menggunakan sarana yang bersifat damai dan tidak boleh bersifat fisik (kekerasan). Haram mengangkat senjata untuk menentang penguasa, kecuali dalam satu kondisi, yaitu apabila Khalifah/ Amirul Mukminin/ Imam al-A'zham tampak adanya kekufuran yang nyata, yang kita bisa membuktikannya di hadapan Allah, jika memang perlu sampai memeranginya untuk menggulingkannya dari kekuasaan; sebagaimana yang tertuang di dalam hadis Ubadah bin Shamit:
... وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ. قَالَ إِلا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيهِ بُرْهَانٌ»
Dan hendaknya kami tidak merebut urusan (kekuasaan) tersebut dari yang berhak. Sabda Rasulullah, "Kecuali kalian menemukan kekufuran yang nyata, dan kalian memiliki bukti di hadapan Allah."
Sumber referensi: bukunya Syaikh Abdul Qadim Zallum, Nizhomul Hukmi fil Islam - Sistem Pemerintahan dalam Islam (terjemahan) halaman 382-386
👇 Referensi: Kitab Nizhomul Hukmi fil Islam (Arab)
Halaman 252
*إِقَامَةُ الأَحْزَابِ السِّيَاسِيَّةِ فَرْضُ كِفَايَةٍ*
إِنَّ مُحَاسَبَةَ الحُكَّامِ الَّتِي أَمَرَ اللهُ المُسْلِمِينَ بِهَا تَكُونُ مِنَ الأَفْرَادِ، بِوَصْفِهِمْ أَفْرَادًا، وَتَكُونُ مِنَ التَّكَتُّلَاتِ وَالأَحْزَابِ بِوَصْفِهَا تَكَتُّلَاتٍ وَأَحْزَابًا.
وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى كَمَا أَمَرَ المُسْلِمِينَ بِالدَّعْوَةِ إِلَى الخَيْرِ، وَالأَمْرِ بِالمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ المُنْكَرِ، وَمُحَاسَبَةِ الحُكَّامِ أَمَرَهُمْ كَذَلِكَ بِإِقَامَةِ تَكَتُّلَاتٍ سِيَاسِيَّةٍ مِنْ بَيْنِهِمْ، تَقُومُ بِوَصْفِهَا تَكَتُّلَاتٍ بِالدَّعْوَةِ إِلَى الخَيْرِ، أَيْ إِلَى الإِسْلَامِ، وَالأَمْرِ بِالمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ المُنْكَرِ، وَمُحَاسَبَةِ الحُكَّامِ. قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ﴾، أَيْ لِتُوجِدُوا أَيُّهَا المُسْلِمُونَ جَمَاعَةً مِنْكُمْ لَهَا وَصْفُ الجَمَاعَةِ، تَقُومُ بِعَمَلَيْنِ: عَمَلِ الدَّعْوَةِ إِلَى الإِسْلَامِ، وَعَمَلِ الأَمْرِ بِالمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ المُنْكَرِ.
وَهَذَا الطَّلَبُ بِإِقَامَةِ الجَمَاعَةِ هُوَ طَلَبٌ جَازِمٌ، لِأَنَّ العَمَلَ الَّذِي بَيَّنَتْهُ الآيَةُ لِتَقُومَ بِهِ هَذِهِ الجَمَاعَةُ هُوَ فَرْضٌ عَلَى المُسْلِمِينَ القِيَامُ بِهِ، كَمَا هُوَ ثَابِتٌ فِي الآيَاتِ وَالأَحَادِيثِ الكَثِيرَةِ. فَيَكُونُ ذَلِكَ قَرِينَةً عَلَى أَنَّ الطَّلَبَ بِإِقَامَةِ الجَمَاعَةِ طَلَبٌ جَازِمٌ. وَبِذَلِكَ يَكُونُ الأَمْرُ الوَارِدُ فِي الآيَةِ لِلْوُجُوبِ، وَهُوَ فَرْضٌ عَلَى الكِفَايَةِ عَلَى المُسْلِمِينَ، إِذَا أَقَامَهُ البَعْضُ سَقَطَ عَنِ البَاقِينَ، وَلَيْسَ هُوَ فَرْضَ عَيْنٍ، لِأَنَّ اللهَ طَلَبَ مِنَ المُسْلِمِينَ أَنْ يُقِيمُوا مِنْ بَيْنِهِمْ جَمَاعَةً، لِتَقُومَ بِالدَّعْوَةِ إِلَى الخَيْرِ، وَالأَمْرِ بِالمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ المُنْكَرِ، وَلَمْ يَطْلُبْ مِنَ المُسْلِمِينَ فِي الآيَةِ أَنْ يَقُومُوا كُلُّهُمْ بِذَلِكَ، وَإِنَّمَا طَلَبَ مِنْهُمْ أَنْ يُقِيمُوا جَمَاعَةً مِنْهُمْ لِتَقُومَ بِهَذَا الفَرْضِ، فَالأَمْرُ فِي الآيَةِ مُسَلَّطٌ عَلَى إِقَامَةِ الجَمَاعَةِ وَلَيْسَ مُسَلَّطًا عَلَى العَمَلَيْنِ.
Halaman 253
*وَالعَمَلَانِ هُمَا بَيَانٌ لِأَعْمَالِ الجَمَاعَةِ المَطْلُوبِ إِيجَادُهَا، فَيَكُونُ وَصْفًا لِنَوْعِ الجَمَاعَةِ المَطْلُوبِ إِيجَادُهَا.*
*وَالجَمَاعَةُ حَتَّى تَكُونَ جَمَاعَةً تَسْتَطِيعُ مُبَاشَرَةَ العَمَلِ بِوَصْفِ الجَمَاعَةِ، لَا بُدَّ لَهَا مِنْ أُمُورٍ مُعَيَّنَةٍ حَتَّى تَكُونَ جَمَاعَةً، وَتَظَلَّ جَمَاعَةً وَهِيَ تَقُومُ بِالعَمَلِ.*
*وَالَّذِي يَجْعَلُهَا جَمَاعَةً هُوَ وُجُودُ رَابِطَةٍ تَرْبِطُ أَعْضَاءَهَا، لِيَكُونُوا جِسْمًا وَاحِدًا، أَيْ كُتْلَةً. وَمِنْ غَيْرِ وُجُودِ هَذِهِ الرَّابِطَةِ لَا تُوجَدُ الجَمَاعَةُ المَطْلُوبُ إِيجَادُهَا، وَهِيَ جَمَاعَةٌ تَعْمَلُ بِوَصْفِهَا جَمَاعَةً. وَالَّذِي يُبْقِيهَا جَمَاعَةً وَهِيَ تَعْمَلُ هُوَ وُجُودُ أَمِيرٍ لَهَا، تَجِبُ طَاعَتُهُ لِأَنَّ الشَّرْعَ أَمَرَ كُلَّ جَمَاعَةٍ بَلَغَتْ ثَلَاثَةً فَصَاعِدًا بِإِقَامَةِ أَمِيرٍ لَهُمْ، قَالَ ﷺ: «وَلَا يَحِلُّ لِثَلَاثَةِ نَفَرٍ يَكُونُونَ بِأَرْضِ فَلَاةٍ إِلَّا أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ» .... رَوَاهُ أَحْمَدُ مِنْ طَرِيقِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو.*
*وَهَذَانِ الوَصْفَانِ اللَّذَانِ هُمَا وُجُودُ الرَّابِطَةِ بَيْنَ الجَمَاعَةِ، وَوُجُودُ الأَمِيرِ الوَاجِبِ الطَّاعَةِ يَدُلَّانِ عَلَى أَنَّ قَوْلَهُ تَعَالَى: ﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ﴾، يَعْنِي لِتُوجَدْ مِنْكُمْ جَمَاعَةٌ، لَهَا رَابِطَةٌ تَرْبِطُ أَعْضَاءَهَا، وَلَهَا أَمِيرٌ وَاجِبُ الطَّاعَةِ، وَهَذِهِ هِيَ الجَمَاعَةُ أَوِ الكُتْلَةُ أَوِ الحِزْبُ أَوِ الجَمْعِيَّةُ أَوْ أَيُّ اسْمٍ مِنَ الأَسْمَاءِ الَّتِي تُطْلَقُ عَلَى الجَمَاعَةِ الَّتِي تَسْتَوْفِي مَا يَجْعَلُهَا جَمَاعَةً، وَيُبْقِيهَا جَمَاعَةً وَهِيَ تَعْمَلُ. وَبِذَلِكَ يَظْهَرُ أَنَّ الآيَةَ أَمَرَتْ بِإِيجَادِ أَحْزَابٍ أَوْ تَكَتُّلَاتٍ أَوْ جَمْعِيَّاتٍ أَوْ مُنَظَّمَاتٍ أَوْ مَا شَاكَلَ ذَلِكَ.*
*أَمَّا كَوْنُ الأَمْرِ فِي الآيَةِ بِإِيجَادِ جَمَاعَةٍ هُوَ أَمْرٌ بِإِقَامَةِ أَحْزَابٍ سِيَاسِيَّةٍ فَذَلِكَ آتٍ مِنْ كَوْنِ الآيَةِ عَيَّنَتْ عَمَلَ هَذِهِ الجَمَاعَةِ، وَهُوَ الدَّعْوَةُ إِلَى الإِسْلَامِ وَالأَمْرُ بِالمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ المُنْكَرِ. وَعَمَلُ الأَمْرِ بِالمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ المُنْكَرِ*
Halaman 254
*جَاءَ عَامًّا فَيَشْمَلُ أَمْرَ الحُكَّامِ بِالمَعْرُوفِ، وَنَهْيَهُمْ عَنِ المُنْكَرِ، وَهَذَا يَعْنِي وُجُوبَ مُحَاسَبَتِهِمْ. وَمُحَاسَبَةُ الحُكَّامِ عَمَلٌ سِيَاسِيٌّ تَقُومُ بِهِ الأَحْزَابُ السِّيَاسِيَّةُ، وَهُوَ مِنْ أَهَمِّ أَعْمَالِ الأَحْزَابِ السِّيَاسِيَّةِ.*
*لِذَلِكَ كَانَتِ الآيَةُ دَالَّةً عَلَى إِقَامَةِ أَحْزَابٍ سِيَاسِيَّةٍ لِتَدْعُوَ إِلَى الإِسْلَامِ، وَلِتَأْمُرَ بِالمَعْرُوفِ، وَتَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ، وَتُحَاسِبَ الحُكَّامَ عَلَى مَا يَقُومُونَ بِهِ مِنْ أَعْمَالٍ وَتَصَرُّفَاتٍ.*
*وَالآيَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذِهِ الأَحْزَابَ يَجِبُ أَنْ تَكُونَ أَحْزَابًا إِسْلَامِيَّةً تَقُومُ عَلَى العَقِيدَةِ الإِسْلَامِيَّةِ وَتَتَبَنَّى الأَحْكَامَ الشَّرْعِيَّةَ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ تَكُونَ أَحْزَابًا شُيُوعِيَّةً أَوِ اشْتِرَاكِيَّةً، أَوْ رَأْسْمَالِيَّةً، أَوْ قَوْمِيَّةً، أَوْ وَطَنِيَّةً أَوْ تَدْعُو إِلَى الدِّيمُقْرَاطِيَّةِ، أَوْ إِلَى العَلْمَانِيَّةِ، أَوْ إِلَى المَاسُونِيَّةِ، أَوْ تَقُومُ عَلَى غَيْرِ العَقِيدَةِ الإِسْلَامِيَّةِ، أَوْ تَتَبَنَّى غَيْرَ الأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ. ذَلِكَ أَنَّ الآيَةَ حَدَّدَتْ صِفَةَ هَذِهِ الأَحْزَابِ بِالأَعْمَالِ الَّتِي تَقُومُ بِهَا. وَهَذِهِ الأَعْمَالُ هِيَ الدَّعْوَةُ إِلَى الإِسْلَامِ وَالأَمْرُ بِالمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ المُنْكَرِ وَمَنْ يَقُومُ بِهَذِهِ الأَعْمَالِ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ حَامِلًا لِلْإِسْلَامِ وَقَائِمًا عَلَى أَسَاسِ الإِسْلَامِ وَمُتَبَنِّيًا أَحْكَامَ الإِسْلَامِ. وَمَنْ يَتَكَتَّلُ عَلَى أَسَاسٍ شُيُوعِيٍّ أَوِ اشْتِرَاكِيٍّ أَوْ رَأْسْمَالِيٍّ، أَوْ دِيمُقْرَاطِيٍّ أَوْ عَلْمَانِيٍّ أَوْ مَاسُونِيٍّ أَوْ قَوْمِيٍّ أَوْ وَطَنِيٍّ أَوْ إِقْلِيمِيٍّ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ قَائِمًا عَلَى أَسَاسِ الإِسْلَامِ، وَلَا حَامِلًا لِلْإِسْلَامِ، وَلَا مُتَبَنِّيًا لِأَحْكَامِ الإِسْلَامِ وَإِنَّمَا يَكُونُ قَائِمًا عَلَى أَسَاسِ كُفْرٍ، وَمُتَكَتِّلًا عَلَى أَفْكَارِ كُفْرٍ.*
*لِذَلِكَ يَحْرُمُ أَنْ يَتَكَتَّلَ المُسْلِمُونَ عَلَى أَسَاسِ الشُّيُوعِيَّةِ أَوِ الاشْتِرَاكِيَّةِ، أَوِ الرَّأْسْمَالِيَّةِ أَوِ الدِّيمُقْرَاطِيَّةِ، أَوِ العَلْمَانِيَّةِ، أَوِ المَاسُونِيَّةِ، أَوِ القَوْمِيَّةِ أَوِ الوَطَنِيَّةِ، أَو*
Halaman 255
*عَلَى أَيِّ أَسَاسٍ غَيْرِ أَسَاسِ الإِسْلَامِ.*
*وَيَجِبُ أَنْ تَكُونَ هَذِهِ الأَحْزَابُ عَلَنِيَّةً غَيْرَ سِرِّيَّةٍ، لِأَنَّ الدَّعْوَةَ إِلَى الخَيْرِ، وَالأَمْرَ بِالمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ المُنْكَرِ، وَمُحَاسَبَةَ الحُكَّامِ، وَالعَمَلَ لِلوُصُولِ إِلَى الحُكْمِ عَنْ طَرِيقِ الأُمَّةِ تَكُونُ عَلَنِيَّةً وَصَرَاحَةً، وَلَا تَكُونُ فِي السِّتْرِ وَالخَفَاءِ، حَتَّى تُؤَدِّيَ الغَرَضَ المَطْلُوبَ مِنْهَا.*
*وَيَجِبُ أَنْ تَكُونَ أَعْمَالُ هَذِهِ الأَحْزَابِ غَيْرَ مَادِّيَّةٍ، لِأَنَّ عَمَلَهَا هُوَ القَوْلُ، فَهِيَ تَدْعُو إِلَى الإِسْلَامِ بِالقَوْلِ، وَتَأْمُرُ بِالمَعْرُوفِ، وَتَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ بِالقَوْلِ، لِذَلِكَ يَجِبُ أَنْ تَكُونَ وَسَائِلُهَا سِلْمِيَّةً، وَلَا تَسْتَعْمِلُ السِّلَاحَ، وَلَا تَتَّخِذُ العُنْفَ وَسِيلَةً لِعَمَلِهَا. لِأَنَّ حَمْلَ السِّلَاحِ فِي وَجْهِ الحَاكِمِ غَيْرُ جَائِزٍ لِوُرُودِ الأَحَادِيثِ النَّاهِيَةِ عَنْ ذَلِكَ، وَلِذَلِكَ يُمْكِنُ أَنْ يَكُونَ الأَمْرُ بِالمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ المُنْكَرِ وَمُحَاسَبَةُ الحُكَّامِ دُونَ إِشْهَارِ السِّلَاحِ عَلَيْهِمْ، لِذَلِكَ يَجِبُ أَنْ تَكُونَ وَسَائِلُهَا سِلْمِيَّةً، وَيُمْنَعُ أَنْ تَكُونَ مَادِّيَّةً، وَيَحْرُمُ إِشْهَارُ السِّلَاحِ فِي وَجْهِ الحَاكِمِ إِلَّا فِي حَالَةٍ وَاحِدَةٍ، وَهِيَ حَالَةُ مَا لَوْ أَظْهَرَ الكُفْرَ البَوَاحَ الَّذِي عِنْدَنَا مِنَ اللهِ فِيهِ بُرْهَانٌ، كَمَا وَرَدَ فِي حَدِيثِ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ: «وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، قَالَ: إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيهِ بُرْهَانٌ».*
Comments
Post a Comment