Wajib Mengoreksi Khalifah/ Amirul Mukminin/ al-Imam al-A'zham Serta Para Penguasa di Bawahnya

Wajib Mengoreksi Khalifah/ Amirul Mukminin/ al-Imam al-A'zham Serta Para Penguasa di Bawahnya

Banyak hadits yang menjelaskan perintah pada kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Dari Hudzaifah al-Yamani, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
"Demi dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, hendaknya kalian benar-benar memerintahkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran, atau Allah betul-betul akan menimpakan siksa untuk kalian dari sisi-Nya, kemudian kalian sungguh-sunguh berdoa kepada-Nya dan Dia tidak mengabulkan (doa) kalian." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Dari Abi Sa'id al-Khudri yang menyatakan: "Rasulullah Saw. bersabda:

"Siapa saja di antara kalian yang melihat kemunkaran, maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim)
Dari Adi bin Umairah yang menyatakan: Aku mendengarkan Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab orang-orang secara massal, karena perbuatan orang tertentu (di antara mereka), kecuali kalau mereka melihat kemungkaran di depan mata mereka, mereka sanggup untuk menolaknya, lalu tidak menolaknya. Apabila mereka melakukannya, niscaya Allah akan mengadzab orang (yang melakukan) itu beserta semua orang (yang ada) secara masal." (HR. Ahmad)
Hadis-hadis ini menunjukkan hukum wajibnya menegakkan amar makruf dan nahi mungkar.
Sekaligus juga menunjukkan wajibnya menyeru penguasa kepada kemakrufan dan mencegahnya dari kemungkaran. Tidak diragukan lagi hal ini maksudnya adalah mengoreksi tindakan-tindakan penguasa. Lebih dari itu banyak hadits yang menyatakan tentang penguasa secara khusus, yang berarti penguatan (ta’kid) atas kewajiban melakukan muhasabah; sehingga mengoreksi penguasa, menyerunya kepada yang makruf dan mencegahnya dari yang mungkar, merupakan perkara yang sangat penting.
Dari Ummu 'Atiyah dari Abi Sa'id yang menyatakan: Rasulullah Saw. bersabda:
"Sebaik-baik jihad adalah (menyatakan) kata-kata yang haq di depan penguasa yang dzalim." (HR. Ahmad)
Dari Abi Umamah yang menyatakan: "Ada seorang laki-laki, pada saat melakukan jumrah ula (melempar batu kerikil yang pertama), bertanya kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, jihad apa yang paling baik?" Beliau diam. Maka ketika melakukan jumrah tsaniyah (melempar batu yang kedua), dia bertanya lagi, dan beliau pun diam. Dan ketika melakukan jumrah aqabah (melempar batu yang terakhir), lalu beliau memasukkan kaki beliau ke pelana kuda untuk menaikinya, beliau bertanya: "Mana orang yang tanya tadi?" Dia menjawab: "Aku (di sini) wahai Rasulullah." Beliau menjawab: "(sebaik-baik jihad adalah) kata-kata haq yang disampaikan di depan penguasa yang dzalim." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Ini merupakan nash yang ditujukan kepada penguasa, serta kewajiban untuk menyampaikan kata-kata yang haq kepadanya, atau mengoreksinya. Maka perjuangan untuk menentang para penguasa yang merampas hak-hak rakyat, atau mengabaikan kewajiban-kewajibannya kepada rakyat, atau melalaikan salah satu urusan mereka, dan yang semisalnya, hukumnya adalah fardhu.
Karena Allah SWT telah mewajibkan hal itu, bahkan menganggapnya seperti jihad, bahkan sebaik-baik jihad; seakan-akan beliau bersabda, “Sebaik-baik jihad di sisi Allah adalah perjuangan menentang penguasa yang dzalim.” Dalil ini saja sebenarnya sudah cukup untuk membuktikan, bahwa mengoreksi para penguasa hukumnya wajib.
Rasulullah Saw. telah mendorong agar menentang para penguasa yang dzalim, apapun resikonya, hingga mengakibatkan terbunuh sekalipun. Diriwayatkan dari Nabi Saw. yang menyatakan:
"Penghulu para syuhada adalah Hamzah, serta orang yang berdiri di hadapan seorang penguasa yang dzalim, lalu memerintahkannya (berbuat makruf) dan mencegahnya (berbuat mungkar), lalu penguasa itu membunuhnya." (HR. Hakim dari Jabir)
Hadis ini merupakan bentuk pengungkapan yang paling tegas, yang mendorong agar berani menanggung semua resiko, sekalipun resiko mati, dalam rangka melakukan koreksi terhadap para penguasa, serta menentang mereka yang dzalim itu.

WAJIB MEMERANGI KHALIFAH DAN PARA PENGUASA DI BAWAHNYA YANG JELAS-JELAS KAFIR
Sebagaimana ada satu hal yang dikecualikan dari perintah ketaatan di atas, yaitu perintah untuk melakukan kemaksiatan. Begitu juga ada satu hal yang dikecualikan dari haramnya memisahkan diri dari kekuasaan seorang penguasa dan mengangkat senjata untuk menentangnya; yaitu adanya kekufuran yang nyata. Apabila kekufuran yang nyata itu benar-benar telah tampak, maka wajib memeranginya (jika memang perlu sampai memeranginya atau membunuhnya. Jika dia langsung mengundurkan diri menyerah maka tidak perlu dibunuh. Kecuali jika dia jelas murtad maka terkena hukum murtad); disebabkan adanya nash-nash yang menjelaskan tentang kondisi tertentu ini. Sehingga ada pengecualian berdasarkan nash.
Auf bin Malik al-Asyja'i berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
"Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai, dan mereka pun mencintai kalian; mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian." Ditanyakan kepada Rasulullah:
"Wahai Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka itu?" Beliau menjawab: "Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kamu sekalian." (HR. Muslim)
Yang dimaksud dengan "menegakkan shalat" adalah "memerintah dengan (hukum) Islam", yaitu menerapkan hukum-hukum syara'. Jadi pemakaian ungkapan "menegakkan shalat" adalah termasuk dalam katagori "tasmiyatu al-kully bi ismi al-juz’i" (menyebut keseluruhan dengan menyebut bagian tertentu). Seperti firman Allah: "Maka, merdekakanlah budak." (QS. al-Mujadilah: 3)
Yang dimaksud adalah memerdekakan budak secara keseluruhan, bukan hanya raqabah (lehernya) saja.
Dalam hadis tersebut, Rasulullah menyatakan: "mâ aqâmû fîkum ash-shalâh" (selama mereka masih menegakkan shalat), yang dimaksud adalah menegakkan seluruh hukum syara'', bukan hanya menegakkan shalat saja. Ini merupakan bentuk majaz yaitu "ithlâqul juz'i wa irâdatu al-kulli" (menyebut bagian tertentu dengan maksud keseluruhan).
Diriwayatkan dari Umi Salamah; bahwa Rasulullah Saw. bersabda:
"Akan ada para pemimpin, lalu kalian akan mengetahui kemakrufannya dan kemunkarannya. Siapa saja yang mengetahui (kemungkaran, lalu membencinya), maka dia akan bebas, dan siapa saja yang mengingkarinya dia akan selamat. Tetapi siapa saja yang rela dan mengikutinya (dia akan celaka)." Mereka bertanya: "Tidakkah kita akan memerangi mereka?" Beliau bersabda: "Tidak, selama mereka shalat." (HR. Muslim)
Maksudnya adalah selama mereka masih menegakkan hukum-hukum syara' yang di antaranya adalah shalat. Ini merupakan kaidah "ithlâqul juz'i wa irâdatu al-kulli" (menyebut bagian tertentu dengan maksud keseluruhan).
Diriwayatkan pula dari Ubadah bin Shamit yang menyatakan:

"Kami diseru oleh Nabi Saw. lalu kami membaiat beliau." Dia melanjutkan: "Beliau mengambil janji dari kami, agar kami membaiatnya dengan mendengarkan dan menaati (semua perintahnya), baik dalam keadaan lapang maupun terpaksa; baik ketika sedih maupun gembira, serta dalam keadaan yang tidak menyenangkan kami; juga agar kami tidak merebut urusan (pemerintahan) dari yang berhak, kecuali apabila (sabda beliau): 'Kalian menemukan kekufuran yang nyata dan kalian sanggup membuktikannya di hadapan Allah.'" (HR. Muslim)
Tiga hadis di atas, yaitu hadis dari Auf bin Malik, hadis Umi Salamah, hadis Ubadah bin Shamit, tema pokoknnya adalah memisahkan diri dari kekuasaan Imam. Hadis-hadis tersebut semuanya menjelaskan larangan memisahkan diri dari kekuasaan Imam, dengan larangan yang tegas:
"Tidakkah kita perangi saja mereka dengan pedang." Beliau menjawab: "Jangan."
"Tidakkah kita perangi saja mereka itu?" Beliau menjawab: "Jangan."
“dan kami tidak akan merebut kekuasaan dari yang berhak”
Semuanya melarang memisahkan diri dari kekuasaan penguasa, dengan larangan yang tegas.
Sebabnya, suatu larangan apabila disertai indikasi (qarinah) berupa kecaman bagi yang memisahkan diri, seperti dalam hadis:
"Siapa saja yang memisahkan diri dari suatu ketaatan, serta memisahkan diri dari jamaah, (lalu mati) maka matinya seperti mati jahiliyah." (HR. an-Nasa’i dari Abi Hurairah), maka, hal itu adalah larangan yang tegas atau bermakna haram. Karena, matinya orang yang memisahkan diri dari kekuasaan seorang Imam dianggap mati jahiliyah. Hal itu menjadi indikasi (qarinah) yang menunjukkan adanya larangan yang tegas (jazm). Karena itu, hadis-hadis ini menjadi dalil atas haramnya memisahkan diri dari seorang Imam.
Akan tetapi ada satu keadaan yang dikecualikan. Pengecualian ini dinyatakan oleh dua hadis, yang pertama, yaitu ‘keadaan tidak menegakkan shalat’ dan ‘tidak shalat’. Kemudian hal itu dipertegas lagi dengan pernyataan hadis ketiga dengan adanya ‘kekufuran yang nyata’.
Tidak ‘menegakkan shalat’ dan ‘tidak shalat’, maksudnya adalah tidak memerintah dengan hukum yang diturunkan oleh Allah, yaitu memerintah dengan hukum-hukum kufur, sehingga penampakan kekufuran tersebut tidak meragukan lagi. (Ayat-ayat al-Qur'an juga menunjukkan berhukum dengan selain hukum Allah SWT adalah perbuatan kekufuran). Dua kata ‘kufran bawâhan’ (kekufuran yang nyata) yang sama-sama dinyatakan dalam hadis tersebut berbentuk nakirah maushufah (umum yang diberi ajektif), yang menunjukkan apa saja yang memang layak untuk diberlakukan hukum kekufuran yang nyata. Jadi bila kekufuran yang nyata tersebut tampak di hadapan kita, yang kita bisa membuktikannya di sisi Allah, maka wajib memisahkan diri darinya. Baik dia berubah sikap menjadi memerintah dengan hukum-hukum kufur, seperti apabila dia memerintah dengan selain hukum yang diturunkan oleh Allah; atau tidak memerintah dengan hukum-hukum kufur, seperti membiarkan orang-orang murtad dari Islam, padahal orang-orang murtad itu menunjukkan kekufurannya secara terang-terangan, ataupun yang lain. Semua itu merupakan kekufuran yang nyata, yang tercakup dalam semua bentuk kekufuran yang nyata. Inilah keadaan yang mengecualikan, yaitu nampaknya perbuatan kekufuran yang nyata, sehingga ketika perbuatan kekufuran yang nyata tersebut benar-benar telah tampak, maka wajib memisahkan diri.
Arah menunjukan makna dari hadis-hadis tentang kewajiban memisahkan diri dari penguasa dalam keadaan ini (tampak kekufuran yang nyata), adalah bahwa Rasulullah Saw. melarang untuk menentang, memerangi, dan merebut kekuasaan dari tangan mereka. Kemudian beliau mengecualikan satu keadaan dari semua itu. Pengecualian memisahkan diri yang sebelumnya merupakan larangan, itu berarti perintah untuk melakukan sesuatu yang dikecualikan. Sehingga pemahaman hadis-hadis tersebut menunjukkan adanya perintah untuk menentang seorang penguasa, memerangi, dan merebut kekuasaan dari tangannya, apabila keadaan (kekufuran yang nyata) itu benar-benar terjadi. Karena makna mafhum sama seperti makna mantuq (eksplisit), dilihat dari segi hujjah. Sehingga makna mafhum (implisit) tersebut bisa menjadi dalil yang menunjukkan, bahwa Allah memerintah agar menentang para penguasa, memerangi, dan merebut kekuasan dari tangan mereka, apabila telah tampak kekufuran yang nyata.
Sedangkan indikasi (qarinah) yang menunjukkan bahwa perintah tersebut bermakna wajib, adalah tema utama perintah itu sendiri yang disertai ta'kid (penegasan) terhadap perintah itu.
Memerintah dengan hukum-hukum Islam itu jelas diwajibkan oleh Allah, dan bukannya disunnahkan.
Sedangkan tampaknya kekufuran yang nyata, telah diharamkan oleh syara', dan bukannya dimakruhkan. Karena itu, tema utama perintah tersebut menjadi indikasi (qarinah) yang menunjukkan bahwa perintah tersebut merupakan perintah yang tegas (jazm). Sehingga memisahkan diri dari kekuasaan seorang penguasa dalam keadaan yang dikecualikan itu, tidak sekadar mubah, melainkan wajib bagi kaum muslim.
Akan tetapi harus dipahami, bahwa yang dimaksud dengan tampaknya kekufuran yang nyata itu adalah kekufuran yang bisa dibuktikan dengan dalil yang pasti, bahwa ia jelas-jelas kufur. Karena Rasulullah Saw. tidak hanya menyatakan sampai di “kufran bawahan” (kekufuran yang nyata), melainkan melanjutkan dengan sabda beliau berikutnya, “indakum minaLlâhi fîhi burhân” (kalian memiliki bukti di hadapan Allah). Kata “burhan”, tidak biasa dipergunakan selain untuk menunjukkan dalil yang pasti (qath’i). Karena itu, adanya dalil yang qath'i menjadi salah satu syarat memisahkan diri. Apabila masih ada bukti yang masih kabur; apakah kufur atau tidak, atau hanya dengan bukti yang bersifat dugaan (zhanni) bahwa ia telah kafir, sekalipun bukti tersebut benar, maka tetap tidak diperbolehkan untuk memisahkan diri. Karena memisahkan diri tidak diperbolehkan, selain apabila ada bukti yang pasti bahwa dia telah benar-benar kafir.
Karena itu, yang dimaksud dengan kekufuran yang nyata, adalah kondisi yang tidak lagi diragukan kekafirannya, serta yang bisa dibuktikan dengan bukti yang pasti (qath'i) bahwa dia benar-benar kafir. Apabila seorang penguasa memerintahkan melakukan suatu perbuatan atau tindakan, yang diliputi kesamaran bahwa dia tidak kafir (atau tidak melakukan perbuatan kekufuran), maka tidak boleh memisahkan diri dari kekuasaannya, dengan alasan kekufuran yang nyata, karena masih adanya kesamaran. Misalkan, apabila seorang penguasa memerintahkan mempelajari teori dialektika di perguruan tinggi, atau mempelajari teologi kufur, padahal anda berpendapat bahwa mempelajari teologi kufur tersebut bisa menyebabkan kekufuran, maka anda tetap wajib menaatinya. Anda tetap harus mempelajari teologi kufur yang diperintahkan untuk dipelajari tersebut. Anda juga tidak boleh memisahkan diri, dengan alasan terlihatnya kekufuran yang nyata. Karena dia pun memiliki alasan yang membolehkan untuk mempelajari theologi kufur, sebagaimana yang ada di dalam al-Qur'an. Allah paparkan semuanya kemudian kesemuanya itu dibantah.
Dengan demikian, segala sesuatu yang mempunyai dalil, atau syubhat dalîl (dalil yang masih diperselisihkan) yang menyatakan sesuatu itu bukan termasuk kufur; sementara di sisi lain terdapat dalil atau syubhat dalîl yang menyatakan termasuk Islam, maka perintah seorang penguasa untuk melakukannya, atau dia melakukannya sendiri, tetap tidak bisa dianggap menjalankan hukum kufur, juga tidak boleh dianggap menampakkan kekufuran yang nyata, sehingga tidak termasuk dalam pengecualian. Karena itu, tidak boleh memisahkan diri dengan alasan tersebut, bahkan wajib tetap menaatinya.

Sumber referensi: bukunya Syaikh Abdul Qadim Zallum, Nizhomul Hukmi fil Islam - Sistem Pemerintahan dalam Islam (terjemahan) halaman 373-381


👇 Referensi: Kitab Nizhomul Hukmi fil Islam (Arab) halaman 246

*وَكَذَلِكَ وَرَدَتْ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ تَدُلُّ عَلَى الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ. عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهِ، ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلَا يَسْتَجِيبُ لَكُمْ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ. وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.*

*وَرَوَى أَحْمَدُ عَنْ عَدِيِّ بْنِ عَدِيِّ بْنِ عَمِيرَةَ الْكِنْدِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ*


Halaman 247

*يَقُولُ: «إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ، حَتَّى يَرَوُا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلَا يُنْكِرُونَهُ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللَّهُ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ».*

*فَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ كُلُّهَا تَدُلُّ عَلَى وُجُوبِ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ، فَهِيَ تَدُلُّ عَلَى وُجُوبِ أَمْرِ الْحَاكِمِ بِالْمَعْرُوفِ، وَنَهْيِهِ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَلَا شَكَّ أَنَّ هَذِهِ هِيَ مُحَاسَبَةٌ عَلَى أَعْمَالِهِ. عَلَى أَنَّ هُنَاكَ أَحَادِيثَ تَنُصُّ عَلَى الْحَاكِمِ خَاصَّةً، تَأْكِيدًا عَلَى الْمُحَاسَبَةِ، لِمَا لِمُحَاسَبَةِ الْحَاكِمِ، وَأَمْرِهِ بِالْمَعْرُوفِ، وَنَهْيِهِ عَنِ الْمُنْكَرِ مِنْ أَهَمِّيَّةٍ، رَوَى أَحْمَدُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ»، وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: «عَرَضَ لِرَسُولِ اللَّهِ رَجُلٌ عِنْدَ الْجَمْرَةِ الْأُولَى فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ؟ فَسَكَتَ عَنْهُ، فَلَمَّا رَمَى الْجَمْرَةَ الثَّانِيَةَ سَأَلَهُ، فَسَكَتَ عَنْهُ، فَلَمَّا رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ فِي الْغَرْزِ لِيَرْكَبَ قَالَ: «أَيْنَ السَّائِلُ؟» قَالَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ ذِي سُلْطَانٍ جَائِرٍ» رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَأَحْمَدُ.*

*فَهَذَا نَصٌّ فِي الْحَاكِمِ، وَوُجُوبِ قَوْلِ الْحَقِّ عِنْدَهُ، أَيْ مُحَاسَبَتِهِ، فَكِفَاحُ الْحُكَّامِ الَّذِينَ يَهْضِمُونَ حُقُوقَ الرَّعِيَّةِ، أَوْ يُقَصِّرُونَ فِي وَاجِبَاتِهِمْ نَحْوَهَا، أَوْ يُهْمِلُونَ فِي شَأْنٍ مِنْ شُؤُونِهَا، فَكِفَاحُ هَؤُلَاءِ وَأَمْثَالِهِمْ فَرْضٌ. لِأَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَهُ، وَاعْتَبَرَهُ كَالْجِهَادِ، بَلْ جَعَلَهُ مِنْ أَفْضَلِ الْجِهَادِ، فَكَأَنَّهُ قَالَ: أَفْضَلُ الْجِهَادِ عِنْدَ اللَّهِ كِفَاحُ الْحُكَّامِ الظَّلَمَةِ. وَهَذَا وَحْدَهُ كَافٍ فِي الدَّلَالَةِ عَلَى وُجُوبِ مُحَاسَبَةِ الْحُكَّامِ.*

*وَقَدْ حَثَّ الرَّسُولُ عَلَى مُكَافَحَةِ الْحُكَّامِ الظَّلَمَةِ، مَهْمَا حَصَلَ فِي سَبِيلِ ذَلِكَ مِنْ أَذًى، حَتَّى لَوْ أَدَّى ذَلِكَ إِلَى الْقَتْلِ. فَقَدْ رَوَى الْحَاكِمُ عَنْ*


Halaman 248

*جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ». وَهَذَا مِنْ أَبْلَغِ الصِّيَغِ فِي التَّعْبِيرِ عَنِ الْحَقِّ وَعَلَى تَحَمُّلِ الْأَذَى حَتَّى الْمَوْتِ فِي سَبِيلِ مُحَاسَبَةِ الْحُكَّامِ، وَكِفَاحِ الْحُكَّامِ الظَّلَمَةِ.*

*يَجِبُ قِتَالُ الْحَاكِمِ إِذَا أَظْهَرَ الْكُفْرَ الْبَوَاحَ*

*وَكَمَا اسْتُثْنِيَ مِنَ الطَّاعَةِ حَالَةٌ وَاحِدَةٌ هِيَ الْأَمْرُ بِالْمَعْصِيَةِ، كَذَلِكَ اسْتُثْنِيَ مِنْ تَحْرِيمِ الْخُرُوجِ عَلَى الْحَاكِمِ، وَإِشْهَارِ السَّيْفِ فِي وَجْهِهِ حَالَةٌ وَاحِدَةٌ وَهِيَ ظُهُورُ الْكُفْرِ الْبَوَاحِ، فَإِذَا ظَهَرَ الْكُفْرُ الْبَوَاحُ وَجَبَ قِتَالُهُ، لِوُرُودِ النُّصُوصِ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ الْمُعَيَّنَةِ، فَقَدْ جَاءَ اسْتِثْنَاؤُهَا بِالنَّصِّ. فَعَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ، وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ»، قَالَ: قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ؟ قَالَ: «لَا، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَالْمُرَادُ بِإِقَامَةِ الصَّلَاةِ الْحُكْمُ بِالْإِسْلَامِ، أَيْ تَطْبِيقُ أَحْكَامِ الشَّرْعِ مِنْ بَابِ تَسْمِيَةِ الْكُلِّ بِاسْمِ الْجُزْءِ، كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ﴾ وَالْمُرَادُ تَحْرِيرُ الْعَبْدِ كُلِّهِ، لَا تَحْرِيرُ رَقَبَتِهِ. وَهُنَا قَالَ: «مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ»، وَالْمُرَادُ إِقَامَةُ أَحْكَامِ الشَّرْعِ كُلِّهَا، لَا إِقَامَةُ الصَّلَاةِ وَحْدَهَا. وَهَذَا مِنْ قَبِيلِ الْمَجَازِ، مِنْ إِطْلَاقِ الْجُزْءِ وَإِرَادَةِ الْكُلِّ. وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ، فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ، وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ» قَالُوا: أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ؟ قَالَ: «لَا، مَا...»*


Halaman 249

*«صَلَّوْا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ. أَيْ مَا قَامُوا بِأَحْكَامِ الشَّرْعِ، وَمِنْهَا الصَّلَاةُ، مِنْ بَابِ إِطْلَاقِ الْجُزْءِ وَإِرَادَةِ الْكُلِّ. وَعَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: «دَعَانَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَبَايَعْنَاهُ، فَكَانَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا، وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، قَالَ: إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.*

*فَهَذِهِ الْأَحَادِيثُ الثَّلَاثَةُ: حَدِيثُ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ، وَحَدِيثُ أُمِّ سَلَمَةَ، وَحَدِيثُ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ مَوْضُوعُهَا الْخُرُوجُ عَلَى الْإِمَامِ، فَهِيَ تَنْهَى عَنِ الْخُرُوجِ عَلَى الْإِمَامِ نَهْيًا جَازِمًا: «أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ قَالَ: لَا»، «أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ؟ قَالَ: لَا»، «وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ». فَهِيَ كُلُّهَا تَنْهَى عَنِ الْخُرُوجِ عَلَى الْحَاكِمِ نَهْيًا جَازِمًا، لِأَنَّهُ نَهْيٌ، وَإِذَا اقْتَرَنَ بِمَا وَرَدَ التَّشْنِيعُ عَلَى الْخُرُوجِ، مِنْ مِثْلِ قَوْلِهِ: «مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً» رَوَاهُ النَّسَائِيُّ مِنْ طَرِيقِ أَبِي هُرَيْرَةَ، كَانَ نَهْيًا جَازِمًا، إِذْ جَعَلَ مِيتَةَ الْخَارِجِ عَنِ الْإِمَامِ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً قَرِينَةً عَلَى أَنَّ النَّهْيَ نَهْيٌ جَازِمٌ. لِذَلِكَ كَانَتْ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ دَلِيلًا عَلَى تَحْرِيمِ الْخُرُوجِ.*

*وَلَكِنَّهَا اسْتَثْنَتْ حَالَةً وَاحِدَةً، عَبَّرَ عَنْهَا الْحَدِيثَانِ الْأَوَّلَانِ بِعَدَمِ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ، وَبِعَدَمِ الصَّلَاةِ، وَعَبَّرَ عَنْهَا الْحَدِيثُ الثَّالِثُ بِالْكُفْرِ الْبَوَاحِ. وَعَدَمُ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ، وَعَدَمُ الصَّلَاةِ، أَيْ عَدَمُ الْحُكْمِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ، يَعْنِي الْحُكْمَ بِأَحْكَامِ الْكُفْرِ، وَهَذَا لَا شَكَّ ظُهُورُ الْكُفْرِ. وَكَلِمَتَا: «كُفْرًا بَوَاحًا» الْوَارِدَتَانِ فِي الْحَدِيثِ نَكِرَةٌ مَوْصُوفَةٌ، تَدُلُّ عَلَى كُلِّ مَا يَنْطَبِقُ عَلَيْهِ أَنَّهُ كُفْرٌ بَوَاحٌ، فَإِذَا ظَهَرَ كُفْرٌ بَوَاحٌ عِنْدَنَا مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ وَجَبَ الْخُرُوجُ عَلَيْهِ، سَوَاءٌ أَكَانَ الْحُكْمُ...*


Halaman 250

*بِأَحْكَامِ الْكُفْرِ، كَالْحُكْمِ بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ، أَمْ كَانَ غَيْرَ الْحُكْمِ بِأَحْكَامِ الْكُفْرِ، كَالسُّكُوتِ عَنِ الِارْتِدَادِ عَنِ الْإِسْلَامِ، وَإِظْهَارِ الْمُرْتَدِّينَ كُفْرَهُمْ عَلَنًا، أَوْ مَا شَاكَلَ ذَلِكَ. فَإِنَّ هَذَا كُلَّهُ مِنَ الْكُفْرِ الْبَوَاحِ، فَهُوَ يَشْمَلُ كُلَّ كُفْرٍ بَوَاحٍ. وَهَذِهِ هِيَ الْحَالَةُ الْمُسْتَثْنَاةُ: ظُهُورُ الْكُفْرِ الْبَوَاحِ، فَإِذَا ظَهَرَ الْكُفْرُ الْبَوَاحُ وَجَبَ الْخُرُوجُ.*

*وَوَجْهُ الدَّلَالَةِ فِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ عَلَى وُجُوبِ الْخُرُوجِ عَلَى الْحَاكِمِ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ هُوَ أَنَّ الرَّسُولَ نَهَى عَنْ مُنَابَذَتِهِمْ، وَعَنْ مُقَاتَلَتِهِمْ، وَعَنْ مُنَازَعَتِهِمُ الْوِلَايَةَ، وَاسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ هَذِهِ الْحَالَةَ. فَاسْتِثْنَاءُ الْحَالَةِ إِخْرَاجٌ لَهَا مِنَ النَّهْيِ وَمَفْهُومُ ذَلِكَ يَعْنِي الْأَمْرَ بِهَا. فَالْأَحَادِيثُ يَدُلُّ مَفْهُومُهَا عَلَى الْأَمْرِ بِمُنَابَذَةِ الْحَاكِمِ وَمُقَاتَلَتِهِ وَمُنَازَعَتِهِ الْوِلَايَةَ إِذَا حَصَلَتْ هَذِهِ الْحَالَةُ. وَدَلَالَةُ الْمَفْهُومِ كَدَلَالَةِ الْمَنْطُوقِ، سَوَاءً بِسَوَاءٍ مِنْ حَيْثُ الْحُجَّةُ، فَتَكُونُ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ الشَّارِعَ طَلَبَ مُنَابَذَةَ الْحُكَّامِ، وَمُقَاتَلَتَهُمْ وَمُنَازَعَتَهُمُ الْوِلَايَةَ إِذَا ظَهَرَ الْكُفْرُ الْبَوَاحُ.*

*أَمَّا الْقَرِينَةُ عَلَى أَنَّ الطَّلَبَ طَلَبٌ جَازِمٌ فَهُوَ أَنَّ مَوْضُوعَهُ مِمَّا جَاءَ الشَّرْعُ بِتَأْكِيدِهِ، فَالْحُكْمُ بِالْإِسْلَامِ أَوْجَبَهُ الشَّارِعُ، وَلَمْ يَجْعَلْهُ مَنْدُوبًا. وَظُهُورُ الْكُفْرِ الْبَوَاحِ حَرَّمَهُ الشَّرْعُ، وَلَمْ يَجْعَلْهُ مَكْرُوهًا، فَيَكُونُ مَوْضُوعُ الطَّلَبِ قَرِينَةً عَلَى أَنَّ الطَّلَبَ طَلَبٌ جَازِمٌ، فَيَكُونُ الْخُرُوجُ عَلَى الْحَاكِمِ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ الْمُسْتَثْنَاةِ لَيْسَ جَائِزًا فَحَسْبُ، بَلْ هُوَ فَرْضٌ عَلَى الْمُسْلِمِينَ.*

*إِلَّا أَنَّهُ يَنْبَغِي أَنْ يُعْلَمَ أَنَّ الْمُرَادَ بِظُهُورِ الْكُفْرِ الْبَوَاحِ الْكُفْرُ الَّذِي قَامَ الدَّلِيلُ الْقَاطِعُ عَلَى أَنَّهُ كُفْرٌ. فَإِنَّ الرَّسُولَ ﷺ لَمْ يَكْتَفِ بِقَوْلِهِ: «كُفْرًا بَوَاحًا»، بَلْ أَلْحَقَهَا بِقَوْلِهِ: «عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ»، وَكَلِمَةُ بُرْهَانٍ لَا تُطْلَقُ إِلَّا عَلَى الدَّلِيلِ الْقَطْعِيِّ، وَلِهَذَا كَانَ وُجُودُ الدَّلِيلِ الْقَاطِعِ عَلَى أَنَّهُ كُفْرٌ بَوَاحٌ شَرْطًا مِنْ...*


Halaman 251

*شُرُوطِ الْخُرُوجِ، فَإِذَا كَانَتْ هُنَاكَ شُبْهَةٌ بِأَنَّهُ لَيْسَ بِكُفْرٍ، أَوْ كَانَ هُنَاكَ دَلِيلٌ ظَنِّيٌّ بِأَنَّهُ كُفْرٌ، وَلَوْ كَانَ صَحِيحًا، فَإِنَّهُ لَا يَحِلُّ الْخُرُوجُ، لِأَنَّ الْخُرُوجَ لَا يَحِلُّ إِلَّا إِذَا كَانَ هُنَاكَ دَلِيلٌ قَطْعِيٌّ بِأَنَّهُ كُفْرٌ.*

*وَلِهَذَا فَإِنَّ الْمُرَادَ بِالْكُفْرِ الْبَوَاحِ الْكُفْرُ الَّذِي لَا شُبْهَةَ فِي أَنَّهُ كُفْرٌ، وَالَّذِي قَامَ الدَّلِيلُ الْقَاطِعُ عَلَى أَنَّهُ كُفْرٌ. فَلَوْ أَمَرَ الْحَاكِمُ بِعَمَلٍ أَوْ تَصَرُّفٍ تُوجَدُ هُنَاكَ شُبْهَةٌ بِأَنَّهُ لَيْسَ بِكُفْرٍ لَا يَحِلُّ الْخُرُوجُ عَلَيْهِ، بِحُجَّةِ الْكُفْرِ الْبَوَاحِ لِوُجُودِ الشُّبْهَةِ.*

*فَمَثَلًا لَوْ أَمَرَ الْحَاكِمُ بِتَدْرِيسِ النَّظَرِيَّةِ الدِّيَالِكْتِيكِيَّةِ فِي الْجَامِعَاتِ، أَوْ بِتَدْرِيسِ عَقَائِدِ كُفْرٍ، وَكُنْتَ تَرَى أَنَّ تَدْرِيسَ عَقَائِدِ الْكُفْرِ يُؤَدِّي إِلَى الْكُفْرِ، فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْكَ طَاعَتُهُ، وَأَنْ تُدَرِّسَ عَقَائِدَ الْكُفْرِ الَّتِي أَمَرَ بِتَدْرِيسِهَا، وَلَا يَحِلُّ لَكَ الْخُرُوجُ عَلَيْهِ بِحُجَّةِ ظُهُورِ الْكُفْرِ الْبَوَاحِ. لِأَنَّ لَهُ دَلِيلًا عَلَى جَوَازِ مَعْرِفَةِ عَقَائِدِ الْكُفْرِ، بِمَا وَرَدَ فِي الْقُرْآنِ مِنْ عَقَائِدِ الْكُفْرِ، الَّتِي سَاقَهَا اللَّهُ تَعَالَى، وَرَدَّ عَلَيْهَا.*

*وَهَكَذَا كُلُّ شَيْءٍ لَهُ دَلِيلٌ أَوْ شُبْهَةُ دَلِيلٍ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ بِكُفْرٍ، وَكَانَ هُنَاكَ دَلِيلٌ، أَوْ شُبْهَةُ دَلِيلٍ أَنَّهُ مِنَ الْإِسْلَامِ، فَإِنَّ أَمْرَهُ بِهِ، أَوْ فِعْلَهُ لَهُ لَا يُعْتَبَرُ مِنْ قَبِيلِ أَحْكَامِ الْكُفْرِ، وَلَا مِنْ قَبِيلِ ظُهُورِ الْكُفْرِ الْبَوَاحِ، فَلَا يَدْخُلُ فِي الِاسْتِثْنَاءِ، وَلَا يَحِلُّ الْخُرُوجُ عَلَى الْحَاكِمِ مِنْ أَجْلِهِ، بَلْ تَجِبُ طَاعَتُهُ.*











Comments

Popular posts from this blog

Kutipan Utuh Bab Politik (As-Siyâsah) Buku Pemikiran Politik Islam (Syaikh Abdul Qadim Zallum, Afkâr Siyâsiyy) Terjemahan

al-'Uqûbât (Sanksi Hukum) dalam Islam - Materi Kajian Intensif

Syariah Islamiyyah - Materi Kajian Intensif